Sabtu, 29 November 2025

Orang Tua Sering Salah: Anak Tak Butuh Banyak Nasihat.Tapi CONTOH

Apakah benar anak menjadi baik karena sering dinasihati? Atau justru karena mereka melihat teladan yang konsisten? Pertanyaan ini mengguncang banyak keyakinan lama tentang cara mendidik. Orang tua sering merasa tugasnya adalah menasihati, menegur, dan memberi arahan, padahal anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang dilihat ketimbang apa yang didengar. Dalam dunia pendidikan modern, ini disebut *modeling effect*, sebuah prinsip yang menunjukkan bahwa perilaku anak adalah cermin dari kebiasaan orang tua.

Data dari American Psychological Association menunjukkan bahwa anak-anak meniru hingga 70 persen perilaku orang tua mereka tanpa sadar, terutama dalam hal emosi, kebiasaan, dan cara menyelesaikan masalah. Artinya, bukan jumlah nasihat yang menentukan keberhasilan pola asuh, tetapi konsistensi perilaku yang ditampilkan di depan anak setiap hari. Jadi ketika anak sulit diatur, pertanyaannya bukan “kenapa anak saya seperti ini?”, melainkan “apa yang sebenarnya ia lihat dari saya?”.

1. Anak Lebih Percaya pada Tindakan daripada Kata-Kata

Saat orang tua berkata “jangan marah”, tapi mereka sendiri mudah tersulut emosi, anak menangkap pesan ganda. Ia belajar bahwa kata dan tindakan bisa berbeda, lalu mulai meniru perilaku yang lebih kuat secara emosional: tindakan. Anak tidak belajar dari teori, tapi dari pengalaman nyata yang ia amati setiap hari.

Sebuah kalimat lembut tidak akan berarti banyak jika perilaku yang ditunjukkan bertolak belakang. Anak yang tumbuh melihat ketenangan, kesabaran, dan konsistensi akan menirunya tanpa diminta. Karena baginya, tindakan orang tua adalah “buku pelajaran” paling berpengaruh yang ia baca setiap hari.

2. Nasihat Berlebihan Justru Menumpulkan Kepekaan Anak

Orang tua sering mengira semakin banyak memberi nasihat, semakin cepat anak berubah. Padahal yang terjadi sebaliknya. Nasihat yang diulang terus tanpa contoh nyata hanya membuat anak menutup telinga. Ia tahu apa yang dikatakan benar, tapi tidak merasakan urgensi untuk mengubah perilakunya karena tidak melihat bukti konkret.

Nasihat kehilangan daya ketika tidak diiringi konsistensi. Anak akan lebih peka terhadap perilaku nyata yang selaras dengan nilai yang diajarkan. Maka daripada banyak bicara tentang kejujuran, lebih kuat dampaknya jika anak melihat orang tuanya mengakui kesalahan kecil di depan mereka. Itulah bentuk pendidikan karakter yang tidak perlu diceramahkan.

3. Teladan Adalah Bahasa Moral yang Paling Dipahami Anak

Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kesabaran, dan empati tidak bisa ditanam lewat perintah. Anak mempelajarinya melalui interaksi sehari-hari. Ketika orang tua meminta anak untuk “sabar”, tapi mereka sendiri tidak sabar menunggu anak makan, maka makna sabar kehilangan bentuk.

Sebaliknya, anak yang melihat orang tuanya tenang menghadapi kesulitan akan meniru pola itu secara natural. Di Inspirasi filsuf, pembahasan menarik tentang “pembelajaran implisit” menjelaskan bagaimana perilaku orang tua menciptakan jejak moral dalam otak anak bahkan tanpa disadari. Anak tidak diajarkan menjadi baik, ia *melihat* bagaimana kebaikan bekerja.

4. Anak Belajar dari Reaksi Orang Tua, Bukan dari Ceramahnya

Setiap kali anak berbuat salah, cara orang tua bereaksi jauh lebih penting daripada kata-kata yang diucapkan. Jika reaksi yang muncul adalah kemarahan, anak belajar bahwa kesalahan identik dengan ketakutan. Tapi jika reaksi yang muncul adalah dialog dan bimbingan, anak belajar bahwa kesalahan adalah ruang untuk bertumbuh.

Ketika anak menjatuhkan gelas lalu dimarahi, yang ia pelajari bukan tentang berhati-hati, melainkan tentang menghindari kegagalan. Tapi jika orang tua tenang dan mengajaknya membersihkan bersama, anak memahami makna tanggung jawab tanpa perlu ceramah. Reaksi adalah bentuk teladan yang lebih hidup dari ribuan kata.

5. Konsistensi Kecil Lebih Kuat dari Seribu Janji Besar

Orang tua sering memberi janji: “mulai besok ayah tidak akan marah lagi”, tapi sehari kemudian pola yang sama terulang. Anak menyerap ketidakkonsistenan ini dan belajar bahwa komitmen bisa dilanggar. Dalam jangka panjang, ia meniru pola yang sama terhadap tanggung jawab dan janji pribadi.

Sebaliknya, orang tua yang perlahan menepati hal-hal kecil mengajarkan disiplin moral tanpa banyak bicara. Anak melihat bahwa perubahan tidak datang dari janji, tapi dari tindakan kecil yang terus dilakukan. Nilai sejati tidak diajarkan dengan pidato, tapi dipraktikkan setiap hari.

6. Keteladanan Menciptakan Hubungan yang Lebih Hangat

Anak yang sering dinasihati cenderung menjauh secara emosional. Mereka merasa dinilai terus-menerus. Tapi anak yang melihat orang tuanya menjadi contoh justru lebih dekat, karena ia tidak merasa ditekan, melainkan diundang untuk meniru. Kedekatan emosional ini menjadi fondasi bagi kedisiplinan yang alami, bukan paksaan.

Di rumah yang penuh keteladanan, anak belajar tanpa merasa diawasi. Mereka merasa dihargai, bukan dikontrol. Suasana ini memunculkan rasa aman yang membuat mereka lebih terbuka, lebih jujur, dan lebih mudah diarahkan. Disiplin tumbuh dari rasa percaya, bukan dari rasa takut.

7. Pendidikan Sejati Dimulai dari Diri Orang Tua Sendiri

Banyak orang tua ingin anaknya berubah tanpa sadar lupa memperbaiki dirinya sendiri. Padahal, anak adalah hasil dari kebiasaan yang mereka lihat setiap hari. Tidak ada gunanya menasihati anak agar rajin membaca jika televisi terus menyala di rumah. Tidak ada gunanya memarahi anak karena malas belajar jika ia melihat orang tuanya tidak pernah menunjukkan semangat belajar.

Anak bukan kertas kosong, ia cermin yang memantulkan realitas. Jika orang tua ingin anaknya sabar, maka kesabaran harus menjadi gaya hidup. Jika ingin anak bertanggung jawab, tanggung jawab harus menjadi bahasa keseharian. Perubahan anak dimulai dari perubahan orang tuanya terlebih dahulu.

Tulisan ini bukan tentang menyalahkan, tapi mengingatkan bahwa kekuatan terbesar seorang orang tua bukan terletak pada nasihat, melainkan pada contoh yang hidup. Jika kamu sepakat bahwa tindakan lebih kuat dari kata-kata, bagikan tulisan ini dan tulis pandanganmu di kolom komentar. Siapa tahu, refleksi kecilmu hari ini bisa menjadi titik awal perubahan bagi banyak keluarga di luar sana.

Orang Tua dan Guru: Harus Memahami Mesin Kecerdasan Anak

Kalimat itu menampar keras banyak orang tua dan guru yang frustrasi dengan anak-anak muda hari ini. Tapi mari jujur: apakah benar mereka yang berubah, atau kita yang berhenti belajar? Fakta menariknya, riset Harvard University tahun 2022 menemukan bahwa gaya pengasuhan otoriter justru memperburuk kemampuan komunikasi dan empati anak modern, karena tidak selaras dengan cara berpikir digital-native yang tumbuh dalam kebebasan berekspresi. Maka pertanyaannya: apakah benar mereka “susah diatur”, atau hanya tak lagi cocok diatur dengan pola lama?

Zaman berubah lebih cepat dari ego kita beradaptasi. Dulu anak-anak diajar diam, tunduk, dan patuh. Sekarang, mereka hidup di era keterbukaan, debat, dan validasi sosial. Ketika orang tua masih menuntut kepatuhan mutlak, anak malah mencari tempat lain untuk didengar—entah lewat teman, komunitas, atau dunia digital. Maka yang kita sebut “susah diatur” sering kali hanyalah “tidak didengarkan”.

1. Anak sekarang tidak menolak aturan, mereka menolak otoritas tanpa makna.

Ketika anak membantah, bukan berarti mereka melawan. Mereka hanya ingin tahu mengapa. Itu bentuk berpikir kritis—kemampuan yang justru kita harapkan di masa depan. Dalam banyak kasus, anak yang banyak bertanya dianggap kurang ajar, padahal yang mereka butuhkan hanya alasan rasional di balik perintah. Seorang anak yang berkata “kenapa aku harus belajar biologi?” mungkin tidak menolak belajar, tapi ingin tahu relevansinya bagi hidupnya.

Cara mendidik yang efektif bukan mematikan rasa ingin tahu itu, tapi mengarahkannya. Ketika kita mulai menjelaskan, bukan memerintah, kita sedang membangun kepercayaan. Inilah bedanya pendidikan yang menumbuhkan dengan pendidikan yang menekan. Di Inspirasi filsuf, kita sering bahas cara mengubah pola pikir ini agar otoritas tidak menjadi alat takut, melainkan sumber makna.

2. Anak modern lebih responsif pada dialog, bukan instruksi.

Gaya komunikasi vertikal, “aku orang tua, kamu anak”, tidak lagi bekerja. Bukan karena anak kurang ajar, tapi karena mereka tumbuh di lingkungan horizontal: media sosial, komunitas, dan dunia digital yang semua orang bisa bicara. Maka, jika orang tua masih bicara satu arah, anak akan menutup telinga.

Contoh sederhananya: ketika orang tua melarang anak bermain game tanpa menjelaskan dampaknya, anak akan melanggar diam-diam. Tapi jika orang tua berdialog tentang keseimbangan waktu dan efek dopamin dari game, anak akan belajar tanggung jawab. Bedanya tipis, tapi dampaknya besar: dari pengawasan menjadi kesadaran.

3. Dunia anak hari ini lebih cepat dari tempo berpikir orang tuanya.

Anak-anak sekarang hidup dalam banjir informasi. Mereka belajar lewat YouTube, forum, dan TikTok. Sementara banyak orang tua masih berpikir pengetahuan itu hanya milik sekolah. Ketimpangan ini membuat banyak konflik: orang tua merasa anak sombong, anak merasa orang tua tidak relevan.

Solusinya bukan melarang mereka belajar dari internet, tapi ikut masuk ke dunianya. Tanyakan, apa yang mereka tonton, apa yang mereka pelajari. Jadilah mitra berpikir, bukan pengawas moral. Orang tua yang mau belajar bersama, bukan menggurui, akan selalu dihormati tanpa perlu memaksa.

4. Anak yang “melawan” kadang sedang berjuang menemukan dirinya.

Sikap kritis, gelisah, bahkan keras kepala sering kali adalah tanda anak sedang mencari jati diri. Tapi banyak orang tua salah membaca ini sebagai pembangkangan. Akibatnya, anak tumbuh dengan rasa bersalah hanya karena menjadi dirinya sendiri.

Jika kita memberi ruang untuk bereksperimen, gagal, lalu refleksi, anak akan belajar dari proses itu. Tapi jika setiap kesalahan dihukum, mereka hanya belajar satu hal: berpura-pura patuh. Itulah kenapa banyak anak terlihat baik di depan, tapi memberontak di belakang. Pendidikan sejati bukan menaklukkan perilaku, melainkan menumbuhkan kesadaran.

5. Teknologi mengubah cara anak memahami otoritas.

Di era digital, anak tidak lagi menerima informasi dari satu sumber. Mereka melihat banyak versi kebenaran, banyak model otoritas. Ketika orang tua bicara “dulu ayah juga begitu”, mereka akan membandingkannya dengan ratusan tokoh yang lebih inspiratif di dunia maya. Ini bukan bentuk kurang ajar, tapi refleksi logis dari dunia tanpa batas.

Maka, otoritas tidak lagi berasal dari usia atau posisi, melainkan kompetensi dan kejujuran. Anak akan menghormati orang tua yang bisa mengakui kesalahan, bukan yang pura-pura tahu segalanya. Dunia berubah, dan kehormatan kini lahir dari keterbukaan, bukan ketakutan.

6. Pendidikan keluarga gagal jika hanya berorientasi pada kontrol.

Banyak keluarga modern masih berpikir “anak baik = anak yang nurut”. Padahal riset psikologi perkembangan menunjukkan, anak yang dibesarkan dalam sistem kontrol ketat cenderung sulit mengambil keputusan saat dewasa. Mereka tumbuh dengan ketergantungan emosional pada figur otoritas.

Sebaliknya, anak yang dibesarkan dalam suasana dialog dan refleksi lebih matang secara moral. Mereka bisa menimbang baik-buruk, bukan sekadar takut dihukum. Artinya, pendidikan terbaik bukan yang membuat anak taat, tapi yang membuatnya sadar.

7. Mendidik anak zaman sekarang berarti mendidik diri untuk terus belajar.

Anak adalah cermin dari cara kita berpikir, bereaksi, dan beradaptasi. Jika kita keras, mereka menutup diri. Jika kita terbuka, mereka berkembang. Dunia terus berubah, tapi pendidikan sejati selalu dimulai dari satu hal yang konstan: keteladanan.

Maka sebelum berkata “anak zaman sekarang susah diatur”, mungkin kita perlu bertanya: apakah cara kita masih layak diikuti? Karena anak tidak hanya meniru kata-kata, tapi juga energi, kebiasaan, dan nilai hidup kita.

Kalau kamu sepakat bahwa pendidikan anak bukan tentang siapa yang lebih kuat, tapi siapa yang lebih mau belajar, tulis pendapatmu di kolom komentar. Bagikan tulisan ini ke orang tua lain yang masih berpikir cara lama bisa bekerja di zaman baru.

Minggu, 23 November 2025

MELATIH OTAK

Ada yang menarik dari otak manusia: ia bisa berpikir jernih, tapi juga mudah terbakar oleh emosi. Semakin tinggi sensitivitas tanpa diimbangi kesadaran, semakin rapuh kemampuan berpikir. Dalam riset yang dilakukan oleh Daniel Goleman, pakar emotional intelligence dari Harvard, ditemukan bahwa 80% keberhasilan seseorang ditentukan bukan oleh IQ, tetapi oleh kemampuan mengelola emosi. Artinya, seberapa kuat otakmu bukan diukur dari hafalan dan logika, tapi dari seberapa stabil kamu saat dunia menekanmu dari segala arah.

Kita hidup di era komentar cepat dan opini instan. Seseorang tersinggung hanya karena nada pesan yang salah, ekspresi yang dianggap sinis, atau postingan yang tak sesuai selera. Otak yang lemah bereaksi secara otomatis: menyerang, menolak, atau merasa jadi korban. Sedangkan otak yang kuat menunda reaksi, membaca konteks, lalu memutuskan dengan sadar. Daya pikir emosional adalah kemampuan untuk menunda respon emosional agar logika sempat bekerja. Inilah seni berpikir yang tidak diajarkan di sekolah, tapi menentukan kedewasaan berpikir seseorang.

1. Emosi bukan musuh, tapi sinyal

Banyak orang mengira bahwa menjadi kuat berarti menekan emosi. Padahal, justru sebaliknya: orang yang sehat emosinya bukan yang tidak marah, tapi yang tahu kenapa ia marah. Emosi adalah sinyal biologis, bukan musuh yang harus dimusnahkan. Dalam konteks otak, amigdala adalah pusat emosi yang sering kali bereaksi lebih cepat dari neokorteks, bagian otak yang berpikir.

Contoh sederhana, ketika seseorang mengkritikmu di depan umum, otak otomatis menganggap itu ancaman. Tapi jika kamu memberi jeda, kamu akan sadar bahwa mungkin kritik itu benar, atau sekadar cara bicara orang yang kasar. Kesadaran ini muncul ketika kamu melatih otak untuk membaca sinyal emosi, bukan melawannya.

2. Otak lemah bereaksi, otak kuat merespons

Reaksi adalah tindakan spontan yang lahir tanpa pikir panjang. Respons adalah hasil dari jeda sadar. Orang yang tersinggung cepat biasanya dikuasai oleh sistem saraf simpatik: tubuh siap melawan. Tapi orang yang kuat emosionalnya menenangkan sistem itu dulu sebelum bertindak. Ia tidak menolak rasa tersinggung, tapi mengolahnya agar tidak menguasai pikiran.

Dalam kehidupan sehari-hari, ini tampak ketika seseorang disindir di media sosial. Otak lemah langsung membalas dengan sindiran balik. Otak kuat memilih diam, menunggu, lalu menjawab dengan logika. Saat kamu melatih kemampuan menunda reaksi, kamu sedang memperkuat hubungan antara bagian emosional dan rasional di otakmu.

3. Daya pikir emosional lahir dari kesadaran diri

Seseorang tidak bisa mengendalikan apa yang tidak ia sadari. Itulah kenapa kesadaran diri adalah pondasi dari kecerdasan emosional. Ketika kamu tahu pola emosimu—kapan kamu cenderung tersinggung, apa pemicunya, dan apa narasi di kepalamu—maka kamu tidak lagi jadi budak dari emosimu sendiri.

Misalnya, kamu menyadari bahwa kamu mudah marah saat lelah. Dengan kesadaran itu, kamu bisa memilih untuk tidak berdebat ketika tubuhmu sedang tidak stabil. Ini bukan sekadar kontrol diri, tapi bentuk kecerdasan emosional yang matang. Kesadaran membuatmu mampu berpikir lebih jernih karena kamu mengerti dirimu sebelum menilai orang lain.

4. Emosi yang tidak dikelola akan menipu logika

Saat marah, otakmu menipu dirimu sendiri. Ia membuatmu percaya bahwa kamu benar dan orang lain salah. Inilah yang disebut amygdala hijack oleh Goleman, ketika emosi mengambil alih fungsi rasional. Akibatnya, keputusan yang dibuat di bawah tekanan emosional hampir selalu buruk.

Contoh nyatanya terlihat dalam hubungan kerja. Seorang atasan yang tersinggung oleh kritik bawahannya bisa menganggap kritik itu sebagai bentuk pembangkangan, padahal mungkin itu masukan konstruktif. Ketika logika dikuasai emosi, realitas menjadi kabur. Latihan daya pikir emosional adalah tentang mengembalikan kendali itu ke tangan kesadaran.

5. Ketenangan bukan lemah, tapi bentuk kekuatan berpikir

Dalam budaya yang mengagungkan respon cepat, diam dianggap kalah. Padahal, diam sering kali adalah strategi tertinggi dari pikiran yang kuat. Otak yang mampu menahan diri berarti otak yang telah terlatih membaca situasi sebelum mengambil tindakan.

Coba lihat orang-orang besar dalam sejarah: Marcus Aurelius, Buddha, bahkan Nelson Mandela. Mereka tidak mudah bereaksi pada hinaan atau ketidakadilan. Mereka mengolahnya menjadi tindakan sadar. Daya pikir emosional bukan tentang menahan amarah, tapi mengubah energi emosional menjadi kebijaksanaan tindakan.

6. Pikiran tenang adalah pikiran tajam

Ketika emosi reda, otak berpikir dengan kapasitas penuh. Fokus meningkat, perspektif meluas, dan keputusan jadi lebih objektif. Itulah sebabnya mengapa orang yang tenang terlihat lebih “pintar” dalam menyelesaikan masalah. Otak yang jernih bekerja efisien, sementara otak yang gelisah menguras energi.

Contoh kecilnya terjadi dalam diskusi yang memanas. Mereka yang emosional sering kehilangan arah argumen. Sementara yang tenang mampu mengurai masalah inti dengan logis. Ketenangan bukan bawaan lahir, tapi hasil latihan kesadaran berpikir. Dan ini salah satu hal yang bisa kamu latih lewat pemahaman psikologi berpikir yang kami bahas secara mendalam di Inspirasi filsuf. 

7. Otak kuat bukan yang tak tersinggung, tapi yang cepat pulih

Tidak ada manusia yang benar-benar kebal dari rasa tersinggung. Bedanya, otak yang kuat bisa bangkit lebih cepat dari luka emosional. Ia tidak berlama-lama dalam perasaan menjadi korban. Ia belajar dari pengalaman dan memperkuat sistem mentalnya untuk menghadapi serangan berikutnya.

Dalam konteks psikologi modern, ini disebut resilience, kemampuan otak untuk pulih dari stres. Setiap kali kamu menenangkan dirimu setelah marah, kamu sedang membangun otot kognitif baru. Daya pikir emosional tumbuh lewat latihan kecil yang konsisten bukan lewat teori, tapi pengalaman sadar dalam menghadapi diri sendiri.

Otak yang kuat bukan berarti dingin, tapi sadar. Bukan berarti tak merasa, tapi tahu kapan perasaan harus berbicara dan kapan harus diam. Karena pada akhirnya, berpikir jernih bukan tentang seberapa tinggi IQ-mu, tapi seberapa dalam kamu mengenali emosimu.

Menurutmu, apakah seseorang bisa benar-benar mengendalikan emosinya, atau hanya bisa belajar berdamai dengannya? Tulis pandanganmu di kolom komentar dan bagikan tulisan ini agar lebih banyak orang belajar memperkuat otaknya, bukan menumpulkan hatinya.

Selasa, 04 November 2025

Profil Guru Intuiting SMA Negeri 7 Wajo: Guru dan Jurnalis Edukasi

Di tengah perkembangan zaman yang serba digital, lahirlah sosok inspiratif dari SMA Negeri 7 Wajo yang tak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai jurnalis edukasi. Ia adalah seorang guru yang memadukan dua dunia—pendidikan dan jurnalistik—dalam satu semangat: mendidik dengan karya dan menginspirasi lewat informasi.

Sebagai guru ekonomi, ia dikenal dekat dengan siswa, kreatif dalam mengajar, dan senantiasa mengaitkan teori dengan realitas kehidupan. Baginya, pembelajaran bukan sekadar ruang kelas, tetapi juga ruang kehidupan yang menuntut kepekaan, kolaborasi, dan semangat berkarya. Melalui pendekatan deep learning, ia membimbing siswa untuk berpikir kritis, memahami konsep, serta mampu menerapkannya dalam konteks nyata.

Di sisi lain, sebagai jurnalis edukasi, ia aktif menulis berita, liputan, dan narasi positif seputar kegiatan sekolah, dunia pendidikan, serta isu-isu literasi digital. Setiap tulisan dan liputan yang dihasilkannya menjadi cerminan semangat untuk menebarkan nilai-nilai pendidikan yang mencerahkan. Ia percaya bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga menjadi alat edukasi yang menumbuhkan kesadaran dan apresiasi terhadap dunia belajar.

Melalui kamera dan pena, ia mendokumentasikan perjalanan SMA Negeri 7 Wajo—mulai dari kegiatan siswa, prestasi guru, hingga berbagai inovasi sekolah. Karya-karyanya di bidang jurnalistik pendidikan menjadi bagian dari upaya membangun citra positif sekolah serta memperkuat budaya literasi di kalangan guru dan pelajar.

Dengan semangat “Guru Smanet Sukses Mulia”, ia terus berkomitmen menjadi pendidik yang adaptif, kreatif, dan inspiratif. Sosok ini menunjukkan bahwa seorang guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penggerak perubahan—yang menulis, merekam, dan menebar kebaikan lewat karya edukatif.

Rabu, 29 Oktober 2025

contoh Soal Esai Dengan Pebdekatan Deep Learning Ekonomi Kelas X semester ganjil

 


Materi: Permintaan, Penawaran, dan Harga Keseimbangan

A. Level Pemahaman dan Analisis

1. Jelaskan dengan kata-katamu sendiri apa yang dimaksud dengan hukum permintaan dan berikan contoh nyata di lingkungan sekitarmu.

2. Mengapa kurva permintaan selalu menurun dari kiri atas ke kanan bawah? Kaitkan jawabanmu dengan perilaku konsumen.

3. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat permintaan suatu barang!

4. Jelaskan hubungan antara harga barang dan jumlah barang yang diminta dengan menggunakan contoh situasi di pasar sekolahmu.

5. Bagaimana pengaruh kenaikan harga BBM terhadap permintaan barang-barang lain di masyarakat? Jelaskan berdasarkan konsep ekonomi!

B. Level Aplikasi dan Penalaran

6. Gambarkan secara sederhana hubungan antara permintaan dan penawaran terhadap terbentuknya harga keseimbangan.

7. Jelaskan langkah-langkah bagaimana harga keseimbangan terbentuk di pasar!

8. Berikan contoh kasus di mana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) dan jelaskan dampaknya terhadap harga barang.

9. Sebaliknya, berikan contoh situasi di mana terjadi kelebihan penawaran (excess supply) dan bagaimana cara pasar menyeimbangkannya kembali.

10.Jika harga suatu barang ditetapkan lebih tinggi dari harga keseimbangan oleh pemerintah, apa akibatnya bagi penjual dan pembeli?

C. Level Evaluasi dan Refleksi

11. Analisislah bagaimana teknologi digital (seperti marketplace online) dapat memengaruhi pola permintaan dan penawaran di masyarakat modern.

12. Menurut pendapatmu, apakah harga keseimbangan selalu adil bagi semua pihak (produsen dan konsumen)? Jelaskan alasannya.

13. Bagaimana cara pemerintah menjaga agar harga barang pokok tetap stabil di tengah fluktuasi permintaan dan penawaran?

14.Berikan penilaianmu terhadap dampak psikologis konsumen dalam menentukan keputusan membeli suatu barang.

15ika kamu menjadi pedagang, strategi apa yang akan kamu lakukan ketika harga pasar berada di bawah harga keseimbangan?

D. Level Kreasi dan Inovasi

16. Rancanglah simulasi sederhana (misalnya di kelas) untuk memperagakan proses terbentuknya harga keseimbangan antara penjual dan pembeli.

17. Ciptakan contoh iklan kreatif yang dapat memengaruhi permintaan terhadap produk tertentu, lalu jelaskan alasannya dari sisi ekonomi.

18. Buatlah tabel data hipotetik tentang permintaan dan penawaran suatu produk, lalu tentukan harga keseimbangannya secara manual.

19. Kembangkan solusi inovatif berbasis digital untuk membantu petani menentukan harga keseimbangan hasil panennya agar tidak merugi.

20. Refleksikan: apa makna “harga keseimbangan” bagi kehidupan ekonomi masyarakat dan bagaimana kamu dapat menerapkannya dalam pengambilan keputusan pribadi?


HIMBAUAN UNTUK MENULIS HALUS


 

Senin, 27 Oktober 2025

Kamis, 23 Oktober 2025

Pertemuan Siswa SMA 7 Wajo dengan Guru Wali Smanet 06

Pertemuan pendampingan antara siswa wali dan guru wali kelas Smanet 06 yang dibimbing oleh Bapak Nurdin M, S.Pd dilaksanakan dalam suasana penuh keakraban dan keterbukaan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat komunikasi antara guru wali dengan peserta didik serta memberikan pendampingan dalam aspek akademik, kedisiplinan, dan pengembangan karakter.

Dalam pertemuan tersebut, Bapak Nurdin memberikan arahan tentang pentingnya menjaga semangat belajar, ke



disiplinan hadir di sekolah, serta etika pergaulan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Selain itu, siswa juga diberi kesempatan untuk menyampaikan kendala yang mereka hadapi, baik dalam pembelajaran maupun dalam hubungan sosial di sekolah.

Guru wali menegaskan bahwa setiap siswa memiliki potensi unik yang perlu dikembangkan melalui bimbingan dan kerja sama yang baik antara guru dan siswa. Pertemuan diakhiri dengan motivasi agar seluruh siswa tetap semangat, menjaga nama baik kelas dan sekolah, serta terus berusaha menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan berbudaya sesuai dengan visi SMA Negeri 7 Wajo

Kesempatan pertemuan itu disepakati pemilihan pengurus  "SMANET 06" SMA 7 Wajo

Ketua         :  Danang Prasetyo Prasetyo W  (XI Khusus)

Sekretaris  :  Aqila Bilqis Emilisqi F  (XI Khusus)

Bendahara :  Andi Faqikh Ahgi Rahman



Minggu, 05 Oktober 2025

Sekolah Hebat Lahir dari Kerjasama Guru, Murid, dan Orangtua


Sekolah yang hebat tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau fasilitas.  
Sekolah hebat lahir ketika guru, murid, dan orangtua bekerja sama, saling mendukung, dan berjalan dengan tujuan yang sama.  

Guru mendidik dengan hati, murid belajar dengan semangat, dan orangtua memberi dukungan penuh.  
Jika ketiganya bersinergi, maka tercipta sekolah yang benar-benar luar biasa. 

PONPES AS'ADIYAH Lahir dari AG.KH.AS'AD

Namanya diabadikan dan kini Pondok Pesantren As'adiyah berkembang pesat dan tersebar di seluruh pelosok nusantara alumninya sudah  menjadi Menteri Agama Republik Ingonesia.Anre Gurutta (AG) H. M. As’ad. (Dalam masyarakat Bugis dahulu beliau digelar Anre Gurutta Puang Aji Sade’). Beliau merupakan Mahaguru dari Gurutta Ambo Dalle (1900 – 1996), adalah putra Bugis, yang lahir di Mekkah pada hari Senin 12 Rabi’ul Akhir 1326 H/1907 M dari pasangan Syekh H. Abd. Rasyid, seorang ulama asal Bugis yang bermukim di Makkah al-Mukarramah, dengan Hj. St. Saleha binti H. Abd. Rahman yang bergelar Guru Terru al-Bugisiy.

Selasa, 16 September 2025

Maulid Nabi sebagai Inspirasi Integritas Moral: Perspektif Pendidikan


           MALE KOPERASI SISWA

Krisis integritas di dunia pendidikan menjadi salah satu tantangan besar pada era modern sekarang ini.

Kasus-kasus manipulasi, korupsi, plagiarisme, hingga praktik tidak jujur dalam ujian menunjukkan adanya pelemahan nilai moral di kalangan pelajar, pendidik maupun lainnya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pendidikan yang hanya berfokus pada aspek kognitif tidak cukup untuk membangun generasi yang berkarakter. 

Jumat, 08 Agustus 2025

“TARO ADA TARO GAU”

 



OSIS bukan hanya organisasi formal, tetapi juga sarana bagi siswa untuk belajar berorganisasi, bekerja sama, dan bertanggung jawab

Sabtu, 02 Agustus 2025

KILAS BALIK ALUMNI SMA NEGERI 5 MAKASSAR ANGKATAN 1989


Tiga dekade lebih telah berlalu sejak para siswa angkatan 1989 menamatkan pendidikannya di SMA Negeri 5 Makassar. Masa putih abu-abu yang penuh warna menjadi kenangan abadi yang selalu hidup dalam ingatan. Di sinilah, di lingkungan sekolah yang penuh semangat dan disiplin, benih-benih mimpi dan cita-cita mulai tumbuh.

Senin, 28 Juli 2025

TELADANI EMPAT MARAKTER ISTIMEWA SAHABAT RASULULLAH

 

Oleh: Drs.H. Jufri Nur, M.Pd

Fake-fake ugi. Biasalah di mamasyakat bugis apabila ingin merantau, atau menuntut imu di negeri orang. Sebelum berangkat biasa pergi dulu ”berguru”ke orang-orang tua untuk diberi bekal supaya bisa berhasil di rantau. Salah satunya adalah aplikasi empat sifat sempurna dari sahabat Rasulullah,  sulafa eppa. Abu Bakkareng (Bakar) tettong rioloku, Ummareng (Umar) tettong rimonrikku, Ali tettong riabioku, Usman tettong riataukku. Nasalipuri nurung Muhammad barakka lailaha illallah. Pakai nak. Modala bokong tammawari.

BUGIS MAKASSAR BEDA

 

Oleh:  Jufri Nur

Sering kita lihat penulisan kata serangkai Bugis-Makassar seakan-akan Bugis sama dengan Makassar padahal dua suku ini berbeda jauh. Perbedaan paling menonjol adalah  pada penggunaan Bahasa daerah. Suku Bugis dengan Bahasa Bugisnya dan suku Makassar dengan Bahasa Makassarnya. Ketika penutur asli Bugis berbicara menggunakan  Bahasa Bugis yang tidak mengerti Bahasa Indonesia akan mengalami kesulitan jika lawan bicaranya orang Makassar yang juga tidak mengerti Bahasa Indonesia. Jadi penulisan Bugis Makassar adalah biasa asal jangan diasosiakan Bugis sama Makassar. Yang memiliki pemahaman yang sering keliru adalah orang dari luar Sulawesi Selatan. kita lihat ditelevisi sang pemandu ingin melihat acaranya glamor, meriah, dan bersahabat biasa menyapa dengan menggunakan kata “Apa kareba” ditujukan komunitas  masyarakat Bugis. Tentu ini tepat karena kata “apa” bagi masyarakat Bugis tidak dikenal, yang benar “Aga kareba   Pemandunya ingin kelihatan akrab tapi keliru.

SIPAKATAU, SIPAKAINGE DAN SIPAKALEBBI ADALAH CARA ORANG BUGIS SALING MEMULIAKAN

 

Oleh:  Jufri Nur

Di Sulawesi Selatan,  terdapat banyak suku dan memiliki budaya masing-masing. Ada suku Makassar yang mendiami Kota Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto  sebagian Pangkep, sebagian Maros. Suku Mandar yang mendiami Polman, Polewali, dan Mamasa (sekarang masuk wilayah Sulawesi Barat). Suku Toraja yang mendiami Tanatoraja. Suku Bugis yang mendiami  Kabupaten Bone, Sinjai, Wajo, Sidrap, Pinrang, Pare-pare dan Maros.

Budaya Bugis “sipakatau, sipakainge dan sipakalebbi”, merupakan budaya yang menjadi ciri khas paling menonjol, dan diterapkan di dalam kehidupan  masyarakat Bugis. Ciri khas yang kedua suku Bugis kental dengan Bahasa Bugisnya, Bahasa Bugis menjadi salah satu pembeda dengan suku-suku lainnya.

Sabtu, 26 Juli 2025

TITIK REFLEKSI TELAPAK KAKI KE ORGAN TUBUH



Tahukah kamu bahwa telapak kaki bukan hanya untuk berjalan, tapi juga menyimpan peta hubungan dengan organ-organ dalam tubuh kita? Konsep ini dikenal sebagai refleksologi — ilmu pijat kaki yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu di Tiongkok dan Mesir. 🌐 Apa Itu Refleksologi Kaki? Refleksologi adalah teknik menekan titik-titik tertentu di telapak kaki yang dipercaya terhubung langsung dengan organ dalam seperti jantung, paru-paru, hati, ginjal, hingga usus. Titik-titik ini disebut zona refleksi. --- 📍 Beberapa Titik Penting di Telapak Kaki: Ujung jari kaki → Terhubung ke otak dan sinus Bola kaki (dekat jari-jari) → Terhubung ke paru-paru dan jantung Lengkung kaki bagian tengah → Berkaitan dengan lambung, pankreas, dan ginjal Tumit → Terhubung ke usus besar, kandung kemih, dan organ reproduksi --- 🧘‍♂️ Manfaat Refleksologi Kaki: Meredakan stres & kecemasan Memperlancar sirkulasi darah Membantu pencernaan Meningkatkan kualitas tidur Mengurangi nyeri dan ketegangan otot --- > ⚠️ Catatan Penting: Meskipun refleksologi bermanfaat, ini bukan pengganti pengobatan medis. Tapi bisa menjadi terapi pelengkap yang aman dan alami. --- 🦶 Mulailah lebih peduli dengan kaki, karena dari sanalah banyak kesehatan tubuh kita bisa dipengaruhi! #sehat #viral #kaki #kesehatankaki #fyp #trend #sehatitumudah

Kamis, 24 Juli 2025

Susunan Materi Ekonomi Kelas X Semester Ganjil (Kurikulum 2013)

 

Nurdin M, S.Pd
Guru Smaner

Berikut adalah urutan materi pelajaran Ekonomi Kelas X Semester Ganjil berdasarkan Kurikulum Merdeka (disesuaikan dengan capaian pembelajaran dan struktur konten terbaru):

BAB 1: Konsep Dasar Ilmu Ekonomi

Subbab:

1. Pengertian Ilmu Ekonomi

2. Masalah Pokok Ekonomi: Kelangkaan dan Pilihan

3. Prinsip dan Motif Ekonomi

4. Tindakan Ekonomi dan Skala Prioritas

5. Ilmu Ekonomi sebagai Ilmu Sosial dan Terapan

BAB 2: Kegiatan Ekonomi dan Pelaku Ekonomi

Subbab:

1. Kegiatan Produksi, Distribusi, dan Konsumsi

2. Pelaku Ekonomi: Rumah Tangga, Perusahaan, dan Pemerintah

3. Interaksi Pelaku Ekonomi dalam Sistem Perekonomian

BAB 3: Permintaan, Penawaran, dan Harga Pasar

Subbab:

1. Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhi Permintaan

2. Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhi Penawaran

3. Hukum Permintaan dan Penawaran

4. Keseimbangan Pasar (Equilibrium)

5. Elastisitas Permintaan dan Penawaran

BAB 4: Uang dan Sistem Pembayaran

Subbab:

1. Pengertian dan Fungsi Uang

2. Sejarah dan Jenis-Jenis Uang

3. Nilai Uang dan Syarat Uang

4. Sistem Pembayaran Tunai dan Nontunai

5. Perkembangan Alat Pembayaran Digital

BAB 5: Lembaga Jasa Keuangan

Subbab:

1. Pengertian dan Fungsi Lembaga Jasa Keuangan

2. Bank Sentral (Bank Indonesia): Fungsi dan Peran

3. Bank Umum dan BPR

4. Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB)

5. Inklusi dan Literasi Keuangan

Rabu, 23 Juli 2025

LAPORAN KEGIATAN SENAM ANAK INDONESIA HEBAT DALAM RANGKA PERINGATAN HARI ANAK NASIONAL KE-41 DI SMA NEGERI 7 WAJO TAHUN 2025


Bukit Cenda.Rabu, 23 Juli 2025

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional ke-41, SMA Negeri 7 Wajo menggelar kegiatan Senam Anak Indonesia Hebat pada hari Rabu, 23 Juli 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di halaman sekolah dengan melibatkan seluruh siswa, guru, serta staf SMA Negeri 7 Wajo.

Kegiatan dimulai pukul 8.00 WITA dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah air. Setelah itu, seluruh peserta mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh Wakasek Kesiswaan SMA Negeri 7 Wajo Bapak Drs.H. Amri Samad, M.M,  sebagai wujud rasa syukur dan harapan bagi generasi muda Indonesia yang hebat dan berakhlak mulia.

Acara dilanjutkan dengan pelaksanaan Senam Anak Indonesia Hebat yang dipandu oleh guru olahraga dan tim pemandu senam sekolah. Senam ini dilaksanakan dengan penuh semangat, menggambarkan keceriaan, kekompakan, dan semangat para siswa dalam menyambut Hari Anak Nasional. Melalui gerakan senam yang energik dan menggembirakan, siswa diajak untuk hidup sehat, aktif, serta menumbuhkan rasa bangga menjadi anak Indonesia.

Tema Hari Anak Nasional tahun 2025 adalah "Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045". Tema ini sejalan dengan visi SMA Negeri 7 Wajo dalam mencetak generasi muda yang beriman, berilum dan berbudaya sera berwawasan lingkungan hidup. tangguh, berkarakter, serta siap berkontribusi dalam membangun masa depan bangsa.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kepedulian sekolah terhadap pentingnya momentum Hari Anak Nasional sebagai upaya mengingatkan seluruh elemen masyarakat akan hak-hak, perlindungan, serta peran penting anak dalam kemajuan bangsa.

Dengan penuh semangat, kegiatan Senam Anak Indonesia Hebat di SMA Negeri 7 Wajo berlangsung lancar, tertib, dan penuh makna. Harapannya, semangat dan nilai-nilai yang tertanam dalam peringatan ini dapat terus menginspirasi para siswa menjadi anak-anak hebat yang akan menguatkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.


Sabtu, 12 Juli 2025

Kurikulum Pendidikan di Indonesia Dari Tahun Ke Tahun

1. Kurikulum 1947 - Rentjana Pelajaran
- Konteks: Masa awal kemerdekaan, pendidikan masih transisi dari kolonial ke nasional.
- Ciri khas: Meniru sistem Belanda tapi diberi muatan nasional.
- Fokus: Pendidikan karakter kebangsaan, dasar keterampilan hidup.
- Kelebihan: Menanamkan nasionalisme sejak dini.
- Kelemahan: Kurangnya infrastruktur dan guru terlatih.
- Menteri: Mr. Soewandi

2. Kurikulum 1952 - Rentjana Pelajaran Terurai
- Ciri khas: Lebih sistematis dari kurikulum 1947, dengan rincian tujuan tiap pelajaran.
- Fokus: Daya cipta, nasionalisme, dan keterkaitan antar mata pelajaran.
- Inovasi: Penyusunan berdasarkan prinsip integrasi kurikulum.
- Kelemahan: Masih menitikberatkan hafalan dan bersifat sentralistik.
- Menteri: Wongsonegoro

3. Kurikulum 1964 - Kurikulum Pancawardhana
- Konsep utama: 5 pengembangan: cipta, rasa, karsa, karya, moral.
- Fokus: Pendidikan jasmani-rohani yang seimbang.
- Inovasi: Pendidikan menyeluruh bukan hanya intelektual.
- Kelemahan: Sulit diterapkan karena tidak semua guru memahami konsep 5 pengembangan itu.
- Menteri: Sjarif Thajeb

4. Kurikulum 1968
- Konteks: Orde Baru mulai berkuasa, stabilisasi ideologi.
- Ciri khas: Penekanan pada moral, agama, dan Pancasila.
- Fokus: Disiplin dan loyalitas terhadap negara.
- Kelebihan: Mendorong penanaman nilai nasionalisme.
- Kelemahan: Terlalu normatif dan instruktif, kurang ruang kreativitas.
- Menteri: Mashuri Saleh

5. Kurikulum 1975
- Pendekatan: Sistem instruksional – pembelajaran terstruktur.
- Fokus: Efisiensi, pencapaian tujuan pembelajaran.
- Inovasi: Adanya tujuan instruksional umum dan khusus.
- Kritik: Terlalu teknis dan birokratis, guru lebih sibuk pada administrasi.
- Menteri: Syarif Thayeb

6. Kurikulum 1984 - CBSA
- Pendekatan: Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
- Fokus: Siswa aktif mencari tahu, guru sebagai fasilitator.
- Inovasi: Belajar kooperatif, diskusi, eksperimen.
- Kelemahan: Minim pelatihan guru, sebagian justru salah kaprah “CBSA = ramai”.
- Menteri: Nugroho Notosusanto

7. Kurikulum 1994
- Kombinasi: Sistem instruksional (1975) + CBSA (1984).
- Fokus: Pemisahan antara teori dan praktik secara tegas.
- Masalah: Materi terlalu padat, jam pelajaran berlebih, anak-anak overload.
- Kritik: Siswa pasif, guru kelelahan, tidak sesuai dengan kondisi daerah.
- Menteri: Wardiman Djojonegoro

8. Kurikulum 2004 - KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
- Fokus: Kompetensi dasar dan hasil belajar (output-based education).
- Inovasi: Penilaian berbasis kinerja (performance assessment), portofolio.
- Kelebihan: Mengembangkan keterampilan dan pemahaman mendalam.
- Kelemahan: Guru dan sekolah banyak yang belum siap.
- Menteri: A. Malik Fadjar

9. Kurikulum 2006 - KTSP
- Fokus: Sekolah diberi otonomi menyusun kurikulum (desentralisasi).
- Kelebihan: Kontekstualisasi materi sesuai daerah.
- Masalah: Ketimpangan kualitas antar sekolah, evaluasi tidak seragam.
- Kritik: Sekolah dengan sumber daya rendah tertinggal jauh.
- Menteri: Bambang Sudibyo

10. Kurikulum 2013 - K13
- Fokus: Pendekatan saintifik dan pembelajaran tematik integratif.
- Ciri: Mengembangkan kompetensi 4C (Critical thinking, Creativity, Collaboration, Communication).
- Inovasi: Penilaian autentik, pelatihan karakter, literasi.
- Kritik: Banyak revisi, penilaian terlalu kompleks, guru terbebani.
- Menteri: Mohammad Nuh

11. Kurikulum Merdeka (2022–sekarang)
- Fokus: Fleksibilitas guru dan sekolah; pembelajaran berdiferensiasi.
- Ciri khas: Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
- Tujuan: Menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan siswa dan zaman.
- Kelebihan: Guru bisa lebih kreatif, siswa tidak dikotak-kotakkan.
- Tantangan: Ketimpangan implementasi, butuh pelatihan menyeluruh.
- Menteri: Nadiem Makarim

Jumat, 04 Juli 2025

Pendaftaran Ulang Jalur Prestasi SPMB SMA 7 Wajo Berlangsung Tertib dan Lancar

 


Kampus Cendana, 4 Juli 2025 – Pendaftaran ulang bagi calon peserta didik baru melalui jalur prestasi akademik dan non-akademik Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di SMA Negeri 7 Wajo telah selesai dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 4 Juli 2025. Kegiatan ini berlangsung dengan lancar dan tertib di lingkungan sekolah yang berlokasi di Provinsi Sulawesi Selatan tersebut.

Pelayanan selama proses pendaftaran ulang mendapat apresiasi dari para peserta dan orang tua. Panitia SPMB SMA 7 Wajo tahun 2025 memberikan pendampingan dan pelayanan secara profesional, mulai dari proses verifikasi berkas hingga pengisian data ulang calon siswa.

SEKRETARIS PANITIA SPMB 2025










Kepala SMA 7 Wajo, H. Aminuddin Badawi, S.Pd, M.M, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dalam seleksi calon siswa yang memiliki potensi di bidang akademik maupun non-akademik. “Kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik, serta memastikan bahwa proses ini berjalan transparan dan sesuai dengan prosedur,” ujarnya.

Jumlah peserta jalur prestasi yang melakukan pendaftaran ulang mencapai 299 peserta, jika diketahui], mencakup siswa-siswi berprestasi dari berbagai SMP di wilayah Wajo dan sekitarnya. Selain membawa berkas administrasi, peserta juga diminta menunjukkan bukti prestasi sesuai jalur yang mereka pilih.

Dengan selesainya tahap pendaftaran ulang ini, SMA 7 Wajo akan melanjutkan ke tahapan berikutnya dalam proses penerimaan siswa baru tahun ajaran 2025/2026. (Sek.Panitia : Nurdin M, S.Pd)


Selasa, 10 Juni 2025

JALUR DOMISILI SPMB SMA 7 WAJO TAHUN 2025

HARI I. SENIN, 09 JUNI 2025


 



Pendaftaran SPMB SMA Negeri 7 Wajo Tahun 2025 Dibuka, Jalur Domisili dan Afirmasi Jadi Perhatian Utama

Kampus Bukit Cendana – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) 7 Wajo resmi membuka pendaftaran Seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026. Proses pendaftaran dimulai pada awal Juni 2025 dan dibuka untuk berbagai jalur, termasuk Jalur Domisili dan Jalur Afirmasi yang menjadi fokus utama tahun ini.

Jalur Domisili ditujukan bagi calon peserta didik yang berdomisili di sekitar zonasi sekolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Verifikasi alamat dilakukan berdasarkan Kartu Keluarga yang diterbitkan minimal satu tahun sebelum tanggal pendaftaran.

Sementara itu, Jalur Afirmasi diperuntukkan bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu, pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Keluarga Harapan (PKH), atau Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Jalur ini menjadi bentuk perhatian pemerintah dalam mewujudkan pemerataan akses pendidikan yang adil dan inklusif.

Kepala SMA Negeri 7 Wajo, H. Aminuddin, S.Pd, M.M menyampaikan bahwa pihak sekolah siap melayani proses pendaftaran dengan transparan dan akuntabel. "Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada calon peserta didik dan memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas," ujarnya.

Calon siswa dan orang tua dapat mengakses informasi lengkap mengenai persyaratan, jadwal, serta mekanisme pendaftaran melalui situs resmi sekolah atau langsung datang ke posko layanan informasi yang disediakan di lingkungan sekolah.

Dengan dibukanya pendaftaran ini, SMA Negeri 7 Wajo berharap dapat menjaring siswa-siswi terbaik dari berbagai latar belakang, sekaligus memperkuat komitmen dalam membangun generasi muda yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.

ABIOGRAFI NURDIN

ABIOGRAFI NURDIN
Klik Aja!

POSTINGAN UNGGULAN

"Quotes of the day" Pembina SMA 7 Wajo