Kamis, 20 Mei 2021

RENUNGAN KISAH (NYATA) DI BALIK RASYAD DI FOUNDATION

 RENUNGAN.....

Anak kecil ini hebat, namanya _Rasyad_ asal Kuwait, usia 7 tahun, putera tunggal milyuner Kuwait. 

Saat itu ia terbaring di rumah sakit, 23 hari diopname tanpa ditemani papa mamanya yang kebetulan sibuk dengan pekerjaannya.

Hari ke-23, papa mamanya datang menjenguk dan meminta maaf karena tak sempat mendampinginya. 

Papa mamanya menghiburnya sambil berkata, "Papa mama sibuk untuk mempersiapkan masa depanmu sayang."

Papa mamanya menunjukkan foto-foto proyek dan rumah yang tengah dibangunnya untuk dirinya kelak, di samping rumah yang tengah di tempatinya sekarang.

Anak ini tersenyum dan bertanya, 

"Siapa yang bisa menjamin hari esok saya masih hidup, papaku dan mamaku?

Siapa yang menjamin semua yang papa mama miliki saat ini adalah untukku?

Dan apa manfaat semua yang papa mama miliki apabila nanti tak ditempati?"

Anak yang baru sekolah di kelas SD ini pun akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan  senyuman yang betul-betul "memukul" hati orang tuanya. 

Apa yang terjadi pada orangtuanya selepas wafatnya ananda tercintanya merupakan kisah yang tak kalah mengharukan.

Setelah anak kecil itu dikuburkan, rumah tangga menjadi senyap, sesekali terdengar isak tangis, tangis kesedihan bercampur penyesalan. Kesedihan mendalam memang seringkali ditandai dengan diam, walau tak jarang juga ditandai dengan teriakan umpatan kesedihan atau jeritan duka.

Hari-hari berlalu dengan evaluasi kehidupan pasangan ini.

Sayangnya, evaluasi yang dilakukan bukan didasarkan pada kedewasaan pikir dan ke-matangan emosi.

Si suami menyalahkan si istri yang ikut-ikutan berkarir sehinga melupakan tugas utama seorang ibu yang menjadi "Taman Surga" bagi anaknya.

Si istri menyalahkan suami yang setiap hari bicaranya hanya soal duit, duit dan duit. 

Pertengkaran pun memuncak, si suami menyebutkan kata cerai untuknya.

Si istri menjerit dan membanting semua yang ada di sekitarnya, termasuk foto keluarga yang ada di sampingnya.

Foto itu adalah foto dirinya, suaminya dan anaknya yang sedang tersenyum di suatu taman yang pernah dikunjunginya.

Foto itu baru saja dipasang satu bulan sebelum Rasyad sang anak masuk rumah sakit. 

Foto itu dilemparkan, kacanya pecah berserakan, sebagian mengenai wajah sang suami. 

Tak sengaja, di balik foto itu ada tulisan anaknya, berbunyi,

"Mama Papa, semoga kita bertiga senantiasa menyatu sampai di Akhirat kelak."

Suami istri ini akhirnya terdiam, lama saling memandang, akhirnya terlarut dalam tangisan jiwa yang mendalam.

Mereka pun saling mendekat, kemudian saling merangkul. Suaminya berbisik, "Kita tidak boleh berpisah. Kita harus bersatu selalu, dengan anak kita, sampai ajal menjemput kelak."

Setelah mereka rujuk, ada perubahan mendasar dalam kehidupan mereka. Perubahan yang secara tiba-tiba karena suatu peristiwa luar biasa yang menyentuh diri sehingga menjadi landasan pacu titik balik kehidupan. Dalam psikologi disebut dengan epifani.

Konsep kehidupannya yang awalnya adalah kerja, kerja dan kerja berubah menjadi ibadah, ibadah dan kerja.

Sejak saat itu definisi hidupnya berubah dari "having mood" menjadi "being mood".

HAVING MOOD adalah /perasaan bangga karena memiliki walau tidak bisa menikmati dan memanfaatkan.

BEING MOOD adalah merasa bangga dan bersyukur dengan apa yang dijalani walau tak banyak yang dia miliki.

Orang yang punya 10 mobil, tapi yang digunakan hanya satu saja. Merasa nyaman dan gengsi dengan kepemilikannya itu padahal tidak digunakannya, maka ia terjangkit penyakit "having mood."

Sementara yang tidak punya mobil, tapi bisa menikmati hari-harinya walaupun dengan naik kendaraan umum, maka ia tipe orang bahagia dengan "being mood." 

Kita termasuk yang mana..?

Orang tua Rasyad ini kemudian mewakafkan beberapa rumah dan cottage yang dimilikinya untuk  menjadi pusat kegiatan agama yang diberi nama RASYAD FOUNDATION


Semoga kita dapat menghargai anak-anak kita sebagai anugerah dan menjadi

anugerah bagi yang lainnya. 


Be A MAN with "BEING MOOD"

Sabtu, 15 Mei 2021

Kisah Sayyidina Hasan Dan Sayyidina Husein, Cucu Nabi Muhammad yang Dihadiahi Baju Lebaran Oleh Malaikat.



Hari Raya Idul Fitri, seolah sudah sepaket dengan tradisi mengenakan busana terbaru untuk memberikan penampilan terbaik di hari kemenangan. Hingga kini tradisi ini masih berlaku, terutama bagi anak-anak.


Namun tahukah Anda bahwasanya dahulu kala putri Nabi Muhammad SAW, yakni Sayyidah Fatimah sempat bersedih karena tidak bisa membelikan busana baru untuk Lebaran bagi kedua putra tercintanya, yakni Hasan bin Ali dan Husain bin Ali.


Diriwayatkan pada masa kecil menjelang lebaran, Alhasan dan Alhusain tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang.


Mereka bertanya kepada ibunya,


"Wahai ummah anak2 di Madinah telah dihiasi dg pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?"


Sayyidah Fathimah menjawab,


"sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit".


Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yang sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu..


Ketika malam tiba, ada yang mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, 


"siapa?"


Orang itu menjawab, 


"Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra-putramu".

Maka beliaupun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah.


Kemudian beliau membuka bingkisan tersebut, ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang kesemuanya sangat indah.


Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya lalu memakaikan hadiah tersebut kepada mereka.


Kemudian Rasulullah Saw datang dan melihat keduanya sudah dihiasi dari semua hadiah yang terdapat dalam bingkisan tersebut.


Kemudian Rasulullah Saw menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Rasulullah Saw bertanya kepada Sayyidah Fathimah, 


"Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?"


Sayyidah Fathimah menjawab:


"Iya, aku melihatnya",


Lalu Rasulullah Saw bersabda, 


"Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga..."


Bahkan para penghuni langit dan bumi pun berbahagia jika kedua cucu Rasulullah berbahagia dan bersedih jika mereka sedang bersedih ...

Allohumma Sholli 'Ala Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi.

Selasa, 11 Mei 2021

Mengapa Umat Muslim Ramai Baca Al Qur'an di Bulan Ramadhan.



Sejak 1200 tahun silam, ketika dunia blm mengenal KOMPUTER atau alat hitung sejenis,

 Maka IMAM SYAFI'I telah mampu mendata JUMLAH masing-masing HURUF dalam AL-QURÄ€N secara detail dan tepat


IMAM SYAFI'I dalam kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum dan dikutip oleh Imam ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al-Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dalam Al Qur'an di susun sesuai dgn banyaknya :

POSTINGAN UNGGULAN

JUMATAN