Jumat, 02 November 2012

Enterpreneur

Merangkai Usaha Sejak Muda
YUSRAN/FAJAR
MENJANJIKAN. Usaha percetakan salah satu peluang yang menjanjikan. Ufriani saat berpose di tengah kesibukannya menerima orderan cetak.


MEMBANGUN usaha tak harus dengan modal besar. Hal tersebut dibuktikan pemilik Percetakan Abadi, Ufriani. Dengan modal awal Rp 75 ribu, kini ia bisa mengembangkan usahanya dengan penghasilan Rp 150 juta setiap bulannya.

KEBERANIAN. Sifat itulah yang mendasari Ufriani untuk membangun usahanya. Selain keberanian, ia juga memiliki semangat yang kuat untuk menjadi pengusaha. Tahun 2005 silam, wanita berjilbab itu memulai usahanya dengan berjualan baju distro bagi teman-teman kampusnya di Universitas Hasanuddin.

Akibat menjamurnya penjual distro di berbagai sudut kota, membuat Ufri banting kemudi ke usaha menjual pulsa. Tepatnya tahun 2007, usaha yang digelutinya itu cukup berhasil. Terbukti, dari situ ia bisa membuat warung penjualan pulsa kecil yang lokasinya tak jauh dari Universitas STIMIK Dipanegara Tamalanrea.

Sayang, tak cukup setahun berada disitu ketika terjadi penggusuran di lokasi tersebut membuat warung milik Ufri juga tergusur. Meski begitu, ibu satu anak itu tak patah arang. Ufri yang didampingi seniornya bernama Hendra yang kini menjadi pendamping hidupnya melihat peluang baru di usaha percetakan. Waktu itu memang berlangsung pesta demokrasi pemiliham umum. Pemilu bagi pengusaha percetakan adalah momen untuk mendulang penghasilan yang pantastik.

"Masih di tahun 2007 itu, saya bersama bapak (suaminya, red) mencari tempat untuk membuka usaha percetakan. Waktu itu saya cuma punya modal Rp 75 ribu dan kami menemukan tempat yang harus disewa dengan biaya sekira Rp 12 juta," kisah Ufri, saat ditemui di tempat usahanya Jalan Balla Parang Raya Makassar.

Modal Rp 75 ribu sementara harus menyewah tempat Rp 12 juta memang bukan sesuatu yang mudah. Hal itu pula sempat membuat Ufri uring-uringan memutar otak untuk tetap menjalankan niatnya membuat usaha percetakan. Namun berkat banyaknya relasi yang dimiliki Ufri dan Hendra saat itu membuat mereka bisa mendapatkan pinjaman untuk membiayai sewa tempat.

Luar biasanya, hanya sekira satu minggu menjalankan usaha percetakannya itu, Ufri sudah bisa mengembalikan pinjaman berkat keuntungan dari usaha percetakan yang ia jalankan. Dari situ, keyakinan Ufri bahwa uang bukan segalanya semakin bertambah untuk terus melanjutkan langkah dalam mengembangkan usahanya.

"Jadi bisa dibilang, usaha ini bisa terus berkembang dari relasi dan kepercayaan dari teman-teman. Baik itu yang saya kenal dari kampus dulu, maupun teman yang berasal dari usaha menjual distro dan pulsa yang saya geluti dulu," jelas Ufri.

Tantangan membangun usaha tentu bukan hanya itu, tantangan yang lain pun kerap datang silih berganti. Suatu ketika, percetakan Ufri pernah sepi sekali pengunjung. Uang di kantong pun hampir habis untuk biaya makan sehari-hari. Namun satu yang selalu dipercayai lulusan Fakultas Ekonomi Unhas itu yakni rezeki akan selalu diberikan Tuhan kepada hambah-Nya yang bersabar dan selalu berusaha.

Ufri yang dibantu suaminya memang punya cara tersendiri untuk menggaet pengguna jaza. Bagi Ufri, semua pelanggannya adalah merketingnya yang akan menyebarluaskan informasi tentang usahaya. Untuk mendukung manajemen itu, caranya cuma satu yakni bagaimana menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan.

"Kualitas dan kepercayaan pelanggan adalah hal utama bagi kami. Dengan begitu, pelanggan akan terus menggunakan jasa sekaligus menjadi media yang akan menyebarluaskan informasi tentang keberadaan percetakan kami," ujar Ufri yakin.

Untuk menjaga kepercayaan dan kualitas itu, Ufri bahkan rela mengganti seratus persen jika hasil cetakan tidak memuaskan hati pemesan. Ufri juga memberikan konsultasi jika ada pelanggan yang membutuhkan. Misalnya, pelanggan yang datang ingin melakukan publikasi besar-besaran tetapi dananya agak kurang. Kalau sudah begitu, biasanya Ufri menyarankan untuk membuat brosur saja dibandingkan spandul atau baliho karena biayanya lebih murah.

Percetakan Abadi milik Ufri melayani untuk segala bentuk percetakan. Mulai baliho, baju kaos, bendera, dan banyak lagi yang lain hingga pemasangan dan penyebarluasan publikasi. Misalnya pemasangan spanduk atau pembagian brosur di tempat-tempat umum. Uniknya, Ufri menerima pesanan meski tanpa panjar.

Saat ini, Ufri tidak begitu sulit lagi untuk menggaet pelanggan. Selain di Kota Makassar, Ufri sudah punya pelanggan tetap hampir di setiap kabupaten di Sulsel. Selain itu, percetakan milinya juga sudah menjadi pelanggan tetap beberapa hotel besar di Ranah Daeng.

Mendekati pemilu yang tak lama lagi berlangsung, aktivitas di percetakan milik Ufri semakin padat. Saat FAJAR bertandang ke percetakan Ufri para pekerja di sana tak henti-hentinya melakukan proses percetakan. Terlihat beberapa atribut serta foto beberapa kandidat menjadi bahan cetakan.

Untuk penghasilan sendiri, jika waktu normal dan tidak ada momen tertentu paling sedikit omzet yang diraut Ufri sekira Rp 150 Juta. Namun untuk momen seperti pemilu, biasanya Ufri bisa membukukan penghasilan hingga Rp 200-300 juta.

"Alhamdulillah kalau penghasilan sudah lumayan. Ini semua perlu disyukuri dan semoga tetap berberkah," pungkasnya. (iad/aci)

4 komentar:

POSTINGAN UNGGULAN

Dokumentasi Paskibraka Kab.Wajo Parade I di SMA 7 Wajo