Jumat, 02 November 2012

Enterpreneur Ala JK

Lima Rumus Bisnis Ala JK
(Rahasia Bertahan hingga Generasi Ketiga)
Dok/Fajar
Aswar Hasan

Oleh: Aswar Hasan (Dosen Ilmu Komunikasi Unhas)



TERLALU sedikit pengusaha pribumi yang bisa membangun imperium bisnis keluarga hingga bertahan sampai generasi ketiga. Bahkan, ada pameo mengatakan, bahwa bisnis keluarga yang dibangun oleh generasi pertama, dikenal sebagai era perintisan. Generasi kedua adalah era menikmati, dan di generasi ketiga adalah titik kritis yang umumnya menjadi fase kebangkrutan. Pameo ini tampaknya tidak berlaku di lingkungan keluarga H. Kalla.


Sejak 18 Oktober 1952 lebih setengah abad silam, H. Kalla bersama istrinya tercinta Hj. Athirah merintis bisnis keluarga secara mandiri. Banyak kisah sukses yang sarat dengan nilai kemanusiaan dalam relasi bisnis yang mereka bangun. Kisah mereka, patut menjadi pelajaran entrepreneurship bagi generasi muda saat ini.


Sangat boleh jadi, jika dikaji secara akademik, maka sangat mungkin perjalanan bisnis keluarga H. Kalla melahirkan teori bisnis baru yang berkaitan dengan nilai-nilai kultural berbasis keluarga. Setidaknya, ada pelajaran the best practices yang patut dipetik di dalamnya. Maka dalam pada itu, penulis tertarik untuk menulis isi kuliah umum DR (HC) HM. Jusuf Kalla (generasi kedua H. Kalla, yang karib disapa Pak JK) yang disampaikan dihadapkan civitas akademika mahasiswa Jurusan Ekonomi dan Bisnis Islam di UIN Alauddin, pada Jumat, 19 Oktober 1012.


Kuliah Umum tersebut sangat menarik perhatian mahasiswa yang hadir memadati ruangan. Entah berapa kali aplaus membahana dalam ruang Auditorium Kampus Baru Samata yang megah itu.


Pak JK memulai kuliahnya dengan pertanyaan mengapa Islam di Indonesia lebih dikenal sebagai Islam moderat, tidak sebagaimana di daerah Timur Tengah. Beliau menjawab, karena umumnya, Islam masuk dan berkembang di Indonesia lewat ulama yang sekaligus berbisnis. Sebagaimana diketahui, sebuah bisnis adalah sebuah negosiasi, diplomasi, dan transaksi tanpa paksaan.

Corak inilah yang kemudian banyak mewarnai keislaman bangsa Indonesia. Hanya saja disayangkan, visi bisnis atau perkembangan basis ekonomi Islam dalam gerakan dakwah selanjutnya, tidak lebih berkembang. Padahal, persoalan ekonomi umat adalah masalah yang sangat vital dan strategis untuk menjadi perhatian kita saat ini.


Spirit bisnis untuk memperkuat ekonomi umat dalam gerakan dakwah, sejatinya menjadi hal yang tidak boleh terlupakan. Betapa tidak, karena Nabi Besar Muhammad, saw adalah seorang yang mengawali karier kenabiannya sebagai pedagang yang sukses. Olehnya itu, kata Pak JK saya bangga sebagai pengusaha, karena Nabi Muhammad saw adalah juga seorang pengusaha. Persoalannya kemudian, bagaimana menjadi pengusaha yang baik dan sukses?


Setidaknya, menurut Pak JK, diperlukan beberapa tahapan yang menjadi langkah penting untuk menjadi pengusaha yang sukses. Oleh penulis merumuskannya menjadi 5 langkah JK (Jalan Keluar) dalam berbisnis, yaitu:

Pertama, Niat. Seorang entrepreneurship pemula haruslah membersihkan dan meluruskan niatnya secara kuat dan benar jika akan memulai berbisnis. Rasulullah saw mengatakan, bahwa sesungguhnya sah tidaknya suatu amal perbuatan tergantung pada niatnya. Sebuah niat yang dilandasi untuk ibadah akan selalu berdampak pahala.


Jika sebuah bisnis diniatkan sebagai ibadah, maka seharusnya dilakoni secara serius. Haram hukumnya bermain dalam ibadah. Dan, sebuah ibadah, manakala telah dimulai, haruslah dikerjakan sampai selesai. Dengan kata lain, sebuah niat dalam bisnis yang dinisbahkan sebagai ibadah, haruslah dilakukan secara teratur, dengan sungguh-sungguh dan tuntas.


Niat berbisnis sebagai ibadah juga bisa melahirkan etik dan etos yang kemudian menjadi semacam ideologi dalam berbisnis. Sehingga jatuh bangun, gagal sukses menjadi dinamika dalam berbisnis. Sebuah niat sebagai starting point dalam berbisnis haruslah memiliki ultimate goal sekaligus sebagai the final destination, yaitu mencapai tingkat kesejahteraan tertinggi, dan bisa memberi kemanfaatan maksimal bagi orang banyak.


Dalam kesempatan lain, Pak JK pernah mengatakan, saya mau kaya, supaya bisa membayar zakat lebih banyak.

Kedua, Semangat. Seorang mahasiswa bertanya mana lebih penting dan utama semangat atau modal. Pak JK langsung menjawab dengan tegas dan lugas; semangat. Semangat adalah induk dari segala sukses yang menghubungkan dan membangkitkan semua potensi keunggulan seseorang. Tanpa semangat seseorang akan merasa tidak efektif untuk melangkah dalam bekerja.


Ketiga, 
Gigih, tak mudah putus asa, dan bekerja keras hingga tuntas dengan tetap fokus. Tidak sedikit pengusaha yang terhempas di tengah jalan, jatuh bangkrut dan tidak bangkit-bangkit lagi. Itu karena mereka tidak gigih dan gampang putus asa.


Keempat,
Kreatif dan inovatif. Pada dasarnya inti sebuah usaha, adalah bagaimana memberi nilai tambah sebuah barang dan jasa. Bagaimana mendesain dan memproduksi atau mereproduksi sebuah barang dan jasa sehingga memiliki nilai jual yang profitabel. Selanjutnya, adalah bagaimana barang dan jasa tersebut bernilai jual berdasarkan hukum minat dan daya beli konsumen. Untuk hal ini, diperlukan ilmu manajemen pemasaran.


Kelima,
Kejujuran. Sebuah bisnis yang tidak didasari oleh nilai kejujuran, tidak akan berumur panjang. Kejujuran adalah modal dan kepercayaan yang tak ternilai bagi seorang pengusaha. Kejujuran adalah nilai fundamental yang bersifat prinsip dalam menjalankan sebuah bisnis apapun. kejujuran adalah sebuah tameng tanpa cacat.


Itulah lima langkah bisnis ala JK. Sebuah rumus yang cukup praktis, tetapi tentu tidak semudah itu dalam melaksanakannya. Namun, bukan hal yang mustahil, karena telah dipraktikkan selama lebih setengah abad dan tiga generasi di lingkungan keluarga besar H. Kalla. Saat ini, di lingkungan karyawan dan Staf NV. H. Kalla, kata Kalla telah teraktualisasi sebagai akronim, yaitu: K (Kerja sebagai Ibadah) A (aktif belajar mencapai sukses) L (lebih cepat) L (lebih baik) A (aktif bersama untuk belajar dan bekerja mencapai sukses).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar