Rabu, 21 November 2012

Awalnya Iseng

Bachtiar Baso, Founder Ba-A’ Clothing
Awalnya Iseng, Kini Beromzet Setengah Miliar


DIA punya ide. Tapi tak memiliki modal. Upaya coba-coba juga yang membuatnya bisa jadi pengusaha.

BACHTIAR Baso masih mahasiswa di Teknik Elektro UNM, saat itu, 2010. Dia punya ide membuat usaha sablon kaus wisata di Pantai Bira, Bulukumba. Tapi, itu hanya konsep. Tiar, sapaan akrabnya, tak punya cukup modal.



Tapi dia tiba-tiba ikut sebuah sayembara karya tulis di Kementerian Pendidikan. Karyanya lolos dan Tiar mendapatkan dana hibah Rp6 juta untuk pendirian usaha, seperti yang ditulisnya.

Uang senilai itu dimanfaatkannya sesuai peruntukan. Semuanya masih serba manual. Namun setidaknya, Tiar sudah bisa memproduksi kaus dan menjadi pernak-pernik pertama yang dijual di Bira. Dia memberi brand Ba-A', aksen Bugis Bulukumba yang kurang lebih berarti iya.

"Saat itu, produk saya masih sangat biasa. Baju beli di Pasar Butung lalu disablon. Masih kasar," kenangnya saat ditemui di Hotel Sahid Jaya Makassar, malam tadi.

Tiar memulai usahanya dari kamar indekos 2x3 meter. Pulang kuliah baru kerja. Namanya juga awal, kata dia, semuanya memang masih serba sederhana. Usaha sablonnya berkembang pesat. Memasuki tahun kedua, Ba-A' Clothing sudah memiliki mesin yang lebih bagus. Juga bengkel atau tempat produksi kaus yang lebih layak.

Omzetnya pada tahun kedua pun menjulang, mencapai Rp200 juta dengan laba Rp50 juta. Tiar pun sudah mempekerjakan karyawan. Dulu ada tujuh namun kini tinggal lima orang. Dua lainnya memilih berusaha sendiri.

Tiar pun tak lagi tinggal di indekos. "Kami juga pernah merasakan berkantor di ruko. Kini juga punya penghidupan yang layak," ucapnya.

Omzet Ba-A' Clothing kini mencapai Rp500 juta per tahun. Dalam sebulan, beber pria kelahiran Makassar, 25 Mei 1988 itu, minimal kaus yang terjual 600 lembar.

Kini, produk Ba-A' memang lebih elegan. Namun, Tiar tetap bermain pada harga yang di bawah kompetitor. Alasannya, salah satu bidikan pasarnya adalah tempat wisata. Berbeda jika kaus dipajang di distro.

Meski sudah jadi pengusaha, Tiar terus belajar. Dia rajin mengikuti seminar kewirausahaan. Dia juga pernah menjadi finalis Program Penghargaan Wirausaha Muda Bank Mandiri 2011. "Saya merasa masih kecil di bisnis. Jadi harus terus belajar, termasuk soal strategi bisnis," katanya.

Obsesi Tiar adalah produk-produk Ba-A' bisa masuk mal. Meski produk kaus serupa sudah ada di mal, Tiar yakin bisa bersaing. Selain soal harga, kekhasan produknya adalah segala proses hingga barang jadi dilakukan di Makassar. Kain dibeli, dibuat baju, didesain, disablon, dikemas di kota ini.

Menurut dia, anak Makassar tak kalah soal clothing. "Dari orang luar, kita mungkin hanya kalah soal pencitraan. Misalnya frekeunsi muncul di media massa ataupun online. Namun soal kualitas produk, bisa bersaing," yakin dia.

Tiar juga sudah mulai mengembangkan bisnis. Dia membuka usaha kuliner bernama Ba-A' Rumah Pisang. Namun, mandek. Dia merencanakan lauching ulang dengan konsep baru tahun depan.

Dia juga berpesan kepada mahasiswa yang biasanya banyak ide, untuk tidak takut beraksi. Gagal itu biasa, bahkan dibutuhkan untuk jadi pengalaman agar tak terpuruk berulang-ulang. (*/zul)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar