Rabu, 16 Januari 2019

Kasus siswa Introvert di Pesantren

Penuturan Ust.H.Wahyu,S.Pd
(Guru di Pesantren Shohwatul Is'ad,Pangkep),menghadapi siswa Intuiting introvert.

Saya punya kasus anak Intuiting introvert

Cerdas, punya kelas dan juara kelas waktu kelas 7. Sehingga gurunya memasukkannya di kelas olimpiade Matematika dan Fisika untuk persiapan lomba

Hal mengejutkan terjadi tatkala kelas 8, nilainya anjlok total...peringkat ketiga dari terakhir. Pekerjaannya di kelas lebih banyak tidur, cueknya minta ampun....
Ust.Wahyu Shohwatul Is'ad:
Semua guru guru bingngung. Mengapa nilainya begitu anjlok, penurunannya sangat drastis dan terjadi seketika.

Ketika dipanggil menghadap untuk menanyakan penyebabnya, si Intuiting ini hanya menjawab ringkas bahwa dia MEMILIKI MISI UNTUK MENJADIBPERINGKAT TERAKHIR. 

Nah, ternyata ia memiliki misi unik. Menurutnya, ia bosan dengan peringkat yg bagus. Misinya ini diceritakan bukan hanya kepada guru, bahkan kepada selurih teman-temannya.


Ketika diperhadapkan kepada guru BK(Bimbingan konseling) ia juga masih ngotot dengan misinya.  Guri BK menyerah...

Saya sebagai wali kelasnya belum menyerah. Saya harus bicara kepada kedua orang tuanya. Saya mencurigai ada LUKA BATIN yang tidak terselesaikan....

Saya berkonsultasi  kepada orang tuanya dengan membawa hipotesa sbb:

1. Materi pembelajaran terlalu mudah buatnya. Buktinya, si Intuiting ini tidak perlu kisi-kisi menjelang ujian. Kalau pembahasan kisi2 dia gak masuk. Diberi catatan kisi-kisi ditolak....kalau ditanya dia menjawab: ah gampangji...ndak usahmi kasikka kisi kisi.

Saat ulangan memang nilainya bagus bagus, meski gak full

2. Butuh hal baru. Coz pondok itu rutinitas yg membosankan dgn kegiatan yg sama...bagi Intuiting, ini pembunuhan secara perlahan.

3. Gurunya tidak berkelas, mengajar monoton dan tidak ditemukan hal baru yg membuat Intuiting bilang WOW. Ini berhubungan dengan poin satu

4. Sekadar nyari sensasi agar diperhatikan. Boleh jadi di rumah atau di sekolah kurang mendapatkan apresiasi karya atau kehebatan ide-idenya. Dengan jalan ini, ia lagi menunjukkan diri bahwa ia memiliki kelas tersendiri di atas rata rata kawannya. 


Tapi ini sebatas hipotesa. Saat pertemuan dgn ortu, tersingkaplah apa yg sesungguhnya terjadi...

Saya menggali informasi, mengerucut pada satu permasalahan:

Dulunya ketika kelas 7, ananda ini berprestasi sebagaimana yg dikisahkan sebelumnya.

Saking berpreatasinya, menganggap diri layak menyandang mendapatkan gelar sebagai SISWA TELADAN.

Al hasil, saat pengumuman tiba orang lain yg terpilih.

Ananda shock. Ditelponlah ibundanya, diceritakan semua halnya. Menurutnya, yg terpilih sebagai siswa teladan sama sekali tidal layak dipilih. Yang terpilih itu sangat lemah dalam membangun relasi sosial walau dia mengakui jika ia memang anak yg cerdas.

Lebih gamblangnya lagi, sebenarnya dirinya lebih layak mendpatkan status sebagai siswa teladan dibandingkan yg terpilih itu. Ia menceritakan ini kepada ibunya sembari menangis...

Ibunya menghibur, tapi tidak berguna.

Sejak saat itu nilainya ambruk. Sepertinya ini bahasa lain bahwa saat dulunya ia telah menunjukkan siapa dirinya dengan sangat maksimal namun tidak mendapatkan PERHATIAN ATAU PENGHARGAAN yg layak, maka saat ini ia MEMBERONTAK. Ia kecewa.

BERSAMBUNG....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar