Minggu, 18 Januari 2026

 Pagi cerah langkah bersatu

Kita berkumpul penuh harap

RAT jadi saksi tekad kita

Membangun koperasi bermartabat


Dari laporan hingga rencana

Semua dibahas penuh makna

Kejujuran jadi dasar utama

Untuk masa depan yang lebih cerah


Satu suara satu tujuan

Musyawarah dalam kebersamaan


Tomaddualeng… koperasi kita

Bersama anggota kuatkan asa

SMA Tujuh Wajo bangga menyapa

Menuju jaya, menuju sejahtera


Tomaddualeng… terus melaju

Kerja ikhlas, hati bersatu

RAT jadi tonggak langkah baru

Untuk hari esok yang lebih maju



Keringat kerja jadi prestasi

Setiap usaha penuh arti

Dari simpan pinjam hingga pelayanan

Untuk kesejahteraan anggota sekalian


Tumbuh dengan prinsip setia

Amanah, adil, dan terbuka

Koperasi milik bersama

Dari kita, oleh kita, untuk kita


Dengan semangat gotong royong

Kita songsong masa depan gemilang



Tomaddualeng… koperasi kita

Bersama anggota kuatkan asa

SMA Tujuh Wajo bangga menyapa

Menuju jaya, menuju sejahtera


Tomaddualeng… terus melaju

Kerja ikhlas, hati bersatu

RAT jadi tonggak langkah baru

Untuk hari esok yang lebih maju



Jaya bukan hanya kata

Sejahtera bukan sekadar doa

Dengan RAT kita buktikan

Komitmen nyata, kerja berkelanjutan


Chorus Akhir (Lebih Kuat)

Tomaddualeng… jaya selamanya

Koperasi kebanggaan bersama

SMA 7 Wajo terus berkarya

Untuk anggota yang sejahtera


Tomaddualeng… maju dan bersinar

Bersatu kuat tak tergoyahkan

RAT hari ini, masa depan cerah

Koperasi hebat, anggota bermartabat


Tomaddualeng… jaya… sejahtera…

Bersama kita bisa… 💪✨




Perpisahan Guru Purnabakti SMA Tujuh Wajo Tercinta (Versi Religius & Doa)

 







Verse 1

Di bawah cahaya pagi yang teduh

Kami melangkah dengan haru

Engkau hadir sebagai penunjuk

Menabur ilmu karena Allah Yang Maha Tahu


Bukan sekadar huruf dan angka

Yang kau ajarkan dengan sabar

Namun adab, iman, dan doa

Menjadi bekal hidup yang benar


Pre-Reff

Dalam lelah yang tak terucap

Kau titipkan niat karena ibadah

Setiap peluh menjadi amal

Tercatat rapi di sisi Allah


Reff

Kini tiba saat perpisahan

Hati bersujud penuh keikhlasan

Air mata menjadi saksi

Atas cinta dan pengabdian suci


Terima kasih wahai guru kami

Atas ilmu yang diberkahi

SMA Tujuh Wajo bersaksi

Jasamu hidup hingga nanti


Verse 2

Bertahun engkau meniti waktu

Dengan sabar dan tawakal

Mengajar bukan sekadar tugas

Namun amanah yang kekal


Jika kata kami pernah meluka

Jika sikap kami menyakiti

Ampunilah kami wahai guru

Dalam lapang dan rendah hati


Pre-Reff 2

Kini engkau melangkah tenang

Menuju masa penuh keteduhan

Kami lepaskan dengan doa

Agar Allah limpahkan kemuliaan


Reff (ulang)

Kini tiba saat perpisahan

Hati bersujud penuh keikhlasan

Air mata menjadi saksi

Atas cinta dan pengabdian suci


Terima kasih wahai guru kami

Atas ilmu yang diberkahi

SMA Tujuh Wajo bersaksi

Jasamu hidup hingga nanti


Bridge (Doa)

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah

Balaslah bakti guru kami

Dengan rahmat, sehat, dan husnul khatimah

Serta surga-Mu yang abadi


Lapangkan kuburnya kelak ya Rabb

Terangi dengan cahaya iman

Satukan kami dalam ridha-Mu

Di dunia dan akhir zaman


Reff Akhir

Selamat jalan guru tercinta

Bukan berpisah tapi berdoa

SMA Tujuh Wajo melepasmu

Dengan takzim dan penuh cinta


Outro

Dalam sujud kami berjanji

Menjaga ilmu dan amanah ini

Engkau guru… engkau cahaya

Dalam doa kami, hingga akhir nanti

Selasa, 13 Januari 2026

SEKOLAHKU ADALAH SURGAKU


Di sinilah kami tumbuh dan belajar.
Di SMA Negeri 7 Wajo, setiap langkah adalah doa, setiap pelajaran adalah cahaya masa depan.
Sekolah ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi ruang membentuk karakter, menanamkan iman, dan menumbuhkan budaya luhur.

Kami belajar untuk **beriman**, agar setiap ilmu yang diraih membawa keberkahan.
Kami belajar untuk **berilmu**, agar mampu berpikir kritis, cerdas, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Kami belajar untuk **berbudaya**, menjunjung nilai sopan santun, kebersamaan, dan kearifan lokal.
Dan kami belajar untuk **berwawasan lingkungan hidup**, menjaga alam sebagai amanah, merawat sekolah hijau sebagai rumah bersama.

Wahai peserta didik SMA 7 Wajo,
belajarlah dengan sungguh-sungguh,
berprestasilah dengan rendah hati,
dan bermimpilah setinggi langit dengan kaki tetap berpijak di bumi.

Karena di sekolah inilah,
potensi diasah, karakter dibentuk, dan masa depan dipersiapkan.

**SMA 7 Wajo… Sekolahku adalah Surgaku.**
Tempat lahirnya generasi unggul, berakhlak, dan peduli lingkungan. 

Minggu, 04 Januari 2026

PENYAMPAIAN KEPADA ORANG TUA PESERTA DIDIK KELAS X.I


 Assalamu alaikum wr wb..

Tabe Bapak/Ibu.. Liburan sudah selesai, mulai besok ananda sudah kembali masuk sekolah seperti biasa, pastikan ananda semua tidak ada yang begadang, biar besok mereka semua sehat dan bersemangat mengikuti pelajaran. Nilai rapor yangg sudah diterima adalah gambaran bagaimana kondisi ananda selama 1 semester, mohon dijadikan pedoman untuk menjadi lebih baik kedepannya, semoga pada semester depan bisa ditingkatkan.

Jadi, untuk 1 pekan pertama tidak ada pemberian ijin.Kalau SAKIT supaya disertakan surat keterangan dokter. Demikian disampaikan, mohon perhatian dan  kerjasamanya untuk kebaikan anak-anak kita

Terima kasih...🙏

Minggu, 28 Desember 2025

Dr.Hideki Wada dalam Bukunya "Tembok Berusia 80 Tahun"

Dr. Hideki Wada, seorang psikiater berusia 61 tahun yang ahli dalam kesehatan mental LANSIA, baru-baru ini menerbitkan buku berjudul “Tembok Berusia 80 Tahun.” Begitu buku ini diluncurkan, penjualannya langsung meledak—lebih dari 500.000 eksemplar terjual, dan diprediksi akan menembus 1 juta kopi. Buku ini kemungkinan besar akan menjadi buku terlaris di Jepang tahun ini.

Berikut ini 44 pesan bijak dari Dr. Wada yang patut dibaca dan dibagikan, terutama kepada orang tua tercinta.

Minggu, 07 Desember 2025

KARAKTER DAN MORAL MURID SEMAKIN MEMUDAR

Di ruang kelas yang semestinya menjadi tempat tumbuhnya nilai, adab, dan ilmu, sering kali guru menemukan kenyataan yang tak selalu manis. Etika murid yang perlahan memudar seperti warna kain yang terus disiram matahari. Tidak selalu tampak jelas di awal, namun seiring waktu, perubahan sikap itu terasa sampai ke hati seorang guru.

Bukan hanya soal sopan santun yang berkurang, melainkan juga rasa hormat, tanggung jawab, serta kesadaran akan pentingnya belajar. Hal-hal kecil yang dulu dianggap wajar kini mulai jarang terlihat—mengucap salam ketika masuk kelas, mendengarkan saat guru berbicara, mengerjakan tugas tepat waktu tanpa harus diingatkan berkali-kali, atau sekadar berkata “maaf” ketika salah.

📍Mengapa Hal Ini Membuat Guru Sedih?

Karena bagi seorang guru, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, lalu selesai. Ada harapan besar dalam setiap tatapan, doa yang tak terdengar dalam setiap langkah menuju kelas, serta cinta yang tidak selalu terlihat dalam ketegasan mereka. 

Ketika etika murid mulai menurun, guru merasa seolah nilai-nilai yang ditanamkan perlahan hilang sebelum sempat tumbuh sempurna.

Guru sedih bukan karena merasa tidak dihargai, tetapi karena khawatir masa depan anak-anak itu kehilangan fondasi yang paling penting. Ilmu tanpa etika ibarat rumah tanpa pondasi—tinggi, namun mudah runtuh.

📍Tantangan Zaman yang Tidak Bisa Diabaikan

Perubahan zaman membawa banyak hal: teknologi, kebebasan berpendapat, akses informasi yang luas. Semua itu baik, tetapi juga menantang. Anak-anak lebih mudah terpancing emosi, lebih nyaman berbicara melalui gawai daripada tatap muka, dan terkadang lupa bahwa hormat bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan dalam kehidupan sosial.

Namun, menyalahkan zaman saja tidak cukup. Perubahan hanya bisa terjadi jika semua pihak bergerak—guru, murid, dan orang tua—bersama kembali merawat nilai-nilai kesantunan.

📍Harapan Guru Sesederhana Ini…

Seorang guru tidak menuntut murid selalu sempurna. Yang diinginkan hanyalah sikap yang mencerminkan budi pekerti:

✓Menghargai saat orang berbicara
✓Menjawab dengan sopan, meski memiliki pendapat berbeda
✓Bertanggung jawab atas tugas dan perilaku sendiri
✓Mengucap terima kasih untuk hal sekecil apa pun

Karena etika bukan hanya tentang kata "sopan", tetapi tentang bagaimana seseorang menempatkan diri, menghormati sesama, dan menjaga hubungan manusia dengan hati.

---

Etika murid yang memudar bukan sekadar persoalan sekolah—ini tanda bahwa kita perlu kembali menanam nilai sejak dini. Guru mungkin merasa sedih, tetapi kesedihan itu lahir dari cinta yang besar terhadap generasi yang sedang dibimbingnya.

Masih ada waktu untuk memperbaiki. Masih ada ruang untuk berubah. Dan selama harapan itu tidak padam, guru akan terus bertahan, melangkah ke kelas dengan doa yang sama:

Semoga hari ini, satu nilai kebaikan tumbuh lagi di hati seorang murid. Aamiin.


Jumat, 05 Desember 2025

True Story yg ispirative: Kerinduan Seorang Ayah Berujung Di Pengadilan


Pagi itu Pengadilan Negeri Semarang dipenuhi hiruk-pikuk seperti biasa. Di antara kerumunan orang yg menunggu giliran, tampak seorang lelaki tua berambut putih mengenakan surjan dan blangkon lusuh. Tangannya yg keriput menggenggam erat selembar surat pengaduan. Matanya yang sayu sesekali menatap kosong ke arah pintu ruang sidang.
_"Bapak Sastro Wijoyo?"_ panggil petugas pengadilan.
Lelaki tua itu mengangguk pelan, lalu berjalan tertatih masuk ke ruang sidang. Hakim Ketua, Pak Bambang Suryanto, memperhatikannya dengan seksama. Di sampingnya duduk dua hakim anggota yang juga tampak penasaran.
_"Silakan duduk, Pak. Bapak mengajukan gugatan, ya? Terhadap siapa?"_ tanya Pak Bambang sambil membuka berkas.
_"Maaf, Pak Hakim. Saya menggugat anak saya sendiri. Namanya Arya Satria Wijoyo,"_ jawab Pak Sastro pelan, hampir berbisik.
Pak Bambang mengangkat alisnya, melirik sebentar ke arah rekan-rekannya yang juga tampak terkejut. Suasana ruang sidang mendadak hening.
_"Baik, Pak Sastro. Bisa dijelaskan, apa tuntutan Bapak?"_
Pak Sastro menarik napas panjang. _"Sederhana saja, Pak. Saya minta anak saya memberi nafkah bulanan sesuai kemampuannya."_
_"Oh, itu hak Bapak, kok. Secara hukum dan agama, anak wajib memberi nafkah kepada orang tua. Tidak perlu diperdebatkan lagi,"_ ujar Pak Bambang mantap.
_"Tapi, Pak Hakim..."_ Pak Sastro mengusap wajahnya yang tampak lelah. _"Saya sebenarnya mampu. Punya tanah warisan, punya rumah, tabungan juga ada. Saya tidak butuh uang."_
Ruangan kembali sunyi. Pak Bambang dan kedua hakim anggota saling berpandangan bingung.
_"Lalu maksud Bapak apa?"_ tanya Pak Bambang, kali ini dengan nada lebih lembut.
_"Saya cuma mau minta uang jajan dari anak saya, Pak. Berapa pun, terserah dia. Yang penting... ada."_
Pak Bambang tercenung. Ada sesuatu yang tidak biasa dari kasus ini. _"Baiklah. Kami akan memanggil anak Bapak. Tolong sebutkan alamatnya."_

Beberapa hari kemudian, sidang kedua digelar. Kali ini Arya Satria hadir—pria berusia empat puluhan, mengenakan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan rapi. Wajahnya tampak tegang, bingung bercampur malu. Di sampingnya, Pak Sastro duduk dengan tatapan yang sulit diartikan.
_"Saudara Arya Satria Wijoyo?"_ Pak Bambang membuka sidang.
_"Benar, Pak Hakim."_
_"Apakah Bapak Sastro ini ayah Saudara?"_
_"Iya, Pak. Beliau bapak saya,"_ jawab Arya sambil menunduk.
_"Bapak Saudara mengajukan gugatan, meminta nafkah bulanan dari Saudara. Apa tanggapan Saudara?"_
Arya mengangkat wajahnya, menatap ayahnya sebentar, lalu kembali ke hakim. _"Pak Hakim, saya bingung. Bapak punya uang. Rumahnya besar, di Jalan Pandanaran. Punya sawah di Ungaran, beberapa kios di Johar juga. Kenapa tiba-tiba minta nafkah dari saya?"_
Pak Bambang menoleh ke Pak Sastro. _"Bagaimana, Pak?"_
_"Memang begitu, Pak Hakim. Tapi ini hak saya sebagai bapak, kan? Dan saya cuma minta sedikit,"_ ujar Pak Sastro tenang.
 _"Berapa yang Bapak minta?"_
_"Lima puluh ribu sebulan, Pak. Cukup."_
Seluruh ruangan terhenyak. Lima puluh ribu? Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk makan sehari di kota seperti Semarang.
Arya geleng-geleng kepala. _"Pak Hakim, ini aneh. Lima puluh ribu itu... bahkan untuk ongkos ojek saja kurang."_
_"Tapi itulah maunya saya,"_ sergah Pak Sastro dengan suara yang mulai bergetar. _"Dan saya minta diserahkan langsung. Dari tangan kamu ke tangan saya. Tiap bulan. Tanpa perantara."_
Pak Bambang mulai memahami sesuatu. Tatapannya melembut.
_"Baiklah. Majelis hakim telah mendengar keterangan dari kedua pihak."_ Ia mengetuk palu pelan. _"Kami memutuskan: tergugat, Arya Satria Wijoyo, wajib memberikan nafkah bulanan kepada ayahnya, Sastro Wijoyo, sebesar lima puluh ribu rupiah, diserahkan langsung dari tangan ke tangan, setiap tanggal lima, seumur hidup ayahnya. Sidang ditutup."_
Arya terdiam. Pak Sastro mengangguk pelan, tangannya gemetar saat menerima salinan putusan.
Sebelum mereka berdiri, Pak Bambang mengangkat tangan. _"Tunggu dulu. Pak Sastro, boleh saya bertanya sesuatu?"_
Pak Sastro menoleh.
_"Kenapa Bapak sampai segini, Pak? Kenapa minta jumlah sekecil itu padahal Bapak tidak butuh?"_
Hening sesaat. Pak Sastro menarik napas panjang. Air matanya mulai membasahi pipi keriputnya.
_"Pak Hakim..."_ suaranya bergetar. _"Saya kangen sama anak saya. Sudah setahun lebih, kami tidak ketemu. Dia sibuk kerja, katanya. Telepon pun jarang. Padahal rumah kami cuma beda kelurahan. Saya tidak marah, Pak. Tapi hati saya sakit. Saya sudah tua. Entah berapa lama lagi saya bisa lihat wajahnya."_
Ruangan seperti kehilangan udara.
_"Saya tidak butuh uangnya, Pak Hakim. Saya cuma butuh dia datang. Walau cuma sebulan sekali. Walau cuma lima menit ngobrol di teras sambil serahkan uang lima puluh ribu itu... sudah cukup buat saya. Sudah cukup untuk bikin saya bahagia sampai bulan depan."_
Arya membeku. Wajahnya pucat. Tangannya mengepal di pangkuan.
Pak Bambang mengusap matanya. Kedua hakim anggota menunduk dalam-dalam. Beberapa orang di ruang sidang terisak pelan.
_"Ya Allah, Pak Sastro..."_ Pak Bambang menggeleng. _"Kalau dari awal Bapak bilang begini, saya akan hukum anak Bapak lebih berat. Saya akan masukkan penjara kalau perlu."_
Pak Sastro tersenyum tipis, meski air matanya terus mengalir. _"Tidak usah, Pak Hakim. Saya tidak mau sakiti hati anak saya. Keputusan ini saja sudah cukup. Saya cuma mau dia ingat... bahwa bapaknya masih hidup. Masih menunggu."_
Arya akhirnya menangis. Ia bangkit, berlutut di depan ayahnya, memeluk kaki tua yang sudah mulai lemah itu.
_"Maafkan saya, Pak. Maafkan Arya..."_
Pak Sastro mengelus kepala anaknya dengan tangan yang gemetar. _"Kamu tidak salah, Le. Bapak cuma kangen."_
Pak Bambang menutup berkasnya pelan, lalu berbisik kepada hakim anggota di sebelahnya. _"Semoga anak-anak kita tidak menunggu sampai ada putusan pengadilan untuk ingat orang tua mereka."_
Ruang sidang itu pagi itu dipenuhi isak tangis—bukan karena keadilan yang ditegakkan, tapi karena kerinduan yang terluka.
Sahabat Kisah,
*_Kadang, yang paling mahal bukan uang. Tapi waktu. Dan kadang, yang paling sakit bukan kemiskinan. Tapi dilupakan oleh orang yang kita cintai._*

Sabtu, 29 November 2025

Orang Tua Sering Salah: Anak Tak Butuh Banyak Nasihat.Tapi CONTOH


Apakah benar anak menjadi baik karena sering dinasihati? Atau justru karena mereka melihat teladan yang konsisten? Pertanyaan ini mengguncang banyak keyakinan lama tentang cara mendidik. Orang tua sering merasa tugasnya adalah menasihati, menegur, dan memberi arahan, padahal anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang dilihat ketimbang apa yang didengar. Dalam dunia pendidikan modern, ini disebut *modeling effect*, sebuah prinsip yang menunjukkan bahwa perilaku anak adalah cermin dari kebiasaan orang tua.

ABIOGRAFI NURDIN

ABIOGRAFI NURDIN
Klik Aja!

POSTINGAN UNGGULAN

"Quotes of the day" Pembina SMA 7 Wajo