Rabu, 06 Mei 2020

Janda Tua: GURU Yang Hampir Pensiun



"Nama saya Wahyu Sukma Muhardiansyah, S.Pd, M.Pd. Tadinya saya adalah guru IPS di SMPN 12 Kecamatan Bandar. Sesuai dengan SK dari dinas, mulai hari ini 15 Juli 2019 saya ditugaskan di sini sebagai kepala sekolah menggantikan bapak Drs. Suheri yang telah diangkat menjadi pengawas sekolah. Mohon kepada rekan-rekan semua agar bisa bekerja sama membina dan memajukan sekolah kita tercinta ini, SMPN 5 Satu Atap Bandar"



Laki-laki tampan berkharisma itu mengedarkan pandangan ke seluruh guru dan tenaga kependidikan di hadapannya. Ada yang mengangguk-angguk, ada yang menatap tak berkedip dan banyak yang berbisik-bisik.

"Wuaa...tampan sekali," Bu Via sang guru matematika yang biasanya pendiam dan masih single berdecak kagum.

"Masih muda lagi. Masih 33 euy udah jadi kepala sekolah," Miss Tika sang guru Bahasa Inggris menimpali.

"Wajar. Aku intip berkas beliau di ruang  TU, beliau adalah lulusan terbaik di kampusnya, menyelesaikan S2  cuma setahun, terpilih  sebagai guru teladan. Dan...yang paling  penting, statusnya belum menikah," Bu Endang menyahut sambil mengedipkan sebelah mata.

Hanya beberapa guru laki-laki yang tak berkomentar. Guru perempuan baik tua maupun muda semua kasak-kusuk dan pasang tampang semanis mungkin. Satu-satunya guru perempuan yang mendengarkan serius sambil menatap seperlunya hanya Bu Yus yang duduk di kursi paling pojok.

Mungkin karena paling sepuh makanya tak tertarik wajah bening berwibawa di depan. Toh tahun depan sudah 60 usia Bu Yus. Tahun depan Bu Yus pensiun.

Sang bapak kepala sekolah berdehem. Suasana mendadak senyap. Lebih senyap lagi ketika pandangan mata bapak kepala sekolah tampan itu berhenti pada sosok Bu Yus. Beliau menatap Bu Yus cukup lama dengan pandangan yang susah dimengerti. Guru-guru lain saling pandang.

Tiba-tiba bapak kepala sekolah mengakhiri pertemuan. Sebelum pergi ke ruangannya, bapak kepala sekolah mendekati kursi Bu Yus lalu dengan sangat sopan dan hati-hati meminta Bu Yus ikut ke ruangannya.
****

Enam bulan kemudian....
Seperti biasa pukul 07.15 bapak kepala sekolah berkeliling sebentar menyapa murid-murid dan mengecek kondisi semua fasilitas sekolah termasuk kantin, tempat pembuangan sampah, bahkan toilet. Jika ada yang perlu diperbaiki atau diganti, bapak kepala sekolah dengan sigap menanganinya.

Beliau memang tidak terlalu banyak bicara sehingga nampak berwibawa, tapi beliau tidak sombong sehingga memiliki kharisma tersendiri. Hal ini menjadikan bapak kepala sekolah menjadi idola semua murid SMP yang baru beranjak remaja bahkan juga idola guru-guru, terutama siswa dan guru perempuan.

Tapi siapapun sepakat, sepertinya bapak kepala sekolah hanya tertambat pada satu perempuan. Bu Yus.

Seperti pagi ini, selesai berkeliling, bapak kepala sekolah masuk ke ruang guru. Ternyata beliau membawakan beberapa kotak roti untuk sarapan guru-guru. Beliau segera meminta Bu Lilis yang menjabat tata usaha di SMPN 5 Satu Atap Bandar untuk membagikannya kepada semua guru. Khusus untuk Bu Yus, bapak kepala sekolah menyerahkannya sendiri dengan sangat lemah lembut lengkap dengan minuman dan serantang nasi lengkap untuk makan siang.

"Terimakasih, Pak. Seharusnya bapak tidak usah repot-repot membawakan saya makanan sebanyak ini. Saya sudah tua. Ini terlalu banyak buat saya," Bu Yus berkata sambil tersenyum.

"Huhh! Bibir yang tak pernah berlipstik dan muka keriput itu, kenapa bisa lebih menarik daripada kita-kita yang masih bening gini?" Gerutu Bu Endang setengah berbisik.

"Sia-sia aku kredit skincare mahal. Tetap aja Bu Yus yang sudah tua itu yang dikasih perhatian lebih," sungut Miss Tika sambil mencomot bolu gulung yang baru dihidangkan Bu Lilis.

Sementara bapak kepala sekolah masih menatap Bu Yus sambil tersenyum.

"Tidak apa-apa, Bu. Saya tidak repot. Ibu jangan terlalu capek. Jika ada siswa yang bermasalah, ibu bisa minta bantuan saya kapanpun," ucap bapak kepala sekolah lembut. Bu Yus menarik nafas lalu tersenyum dan mengangguk.

"Terimakasih, Pak" ucap Bu Yus sopan.
****

Kasak kusuk bahwa bapak kepala sekolah mencintai Bu Yus sang guru senior yang sudah sangat tua dan tinggal menghitung hari akan pensiun semakin memanas.

Kalimat mempertanyakan bahkan menuduh yang tidak-tidak kerap menjadi gosip di kalangan guru-guru bahkan juga mulai menyebar di kalangan siswi yang mengidolakan Pak Wahyu Sukma Muhardiansyah sang kepala sekolah tampan dan populer.

Terkadang sindiran pedas sering terlontar langsung pada Bu Yus.

Seperti pagi ini....
"Bu Yus, pantangan ibu apa sih?," Miss Tika bertanya serius.

"Pantangan apa maksudnya, Miss?" Bu Yus balik bertanya sambil meletakkan pulpennya yang tadi di gunakan untuk mengisi catatan piket.

"Ya...pantangan. Sesuatu yang gak boleh dilanggar agar ibu kelihatan cantik walau sudah tua"

Bu Yus tertawa. Dia tidak tahu apakah itu pertanyaan atau hinaan.

"Tidak ada pantangan saya yang seperti itu, Miss. Dokter hanya melarang saya begadang dan bekerja terlalu berat karena saya sudah tua. Bulan depan saya genap 60 tahun. Sudah rentan penyakit"

Di lain waktu....
"Maaf, Bu. Permisi, saya mau lewat" Bu Yus sedikit membungkuk ketika melewati Bu Via, Bu Lilis dan Bu Endang yang tengah ngobrol ketika jam istirahat.

"Duh. Bu Yus jangan senyum ke arah kami dong. Nanti kami kena pengaruh pelet Bu Yus," sungut Bu Via. Bu Via masih mangkel karena tak sengaja melihat bapak kepala sekolah memberikan bakal baju pada Bu Yus. Tadinya Bu Via berencana mengadu ke kepala sekolah tentang muridnya yang sudah seminggu tidak hadir tanpa keterangan dan ketika di datangi rumahnya ternyata kosong. Tak ada siapapun di sana dan tak seorangpun yang tahu keberadaan murid tersebut. Tapi dari balik pintu ruang kepala sekolah, tak sengaja Bu Via mendengar pembicaraan bapak kepala sekolah yang memberikan bakal baju kepada Bu Yus.

"Saya tak pakai pelet, Bu. Ibu ada-ada saja," Bu Yus tertawa kecil.
****

Hari ini adalah hari terakhir Bu Yus bertugas. Bapak kepala sekolah membentuk panitia untuk acara perpisahan dengan Bu Yus.

Bu Yus tak banyak berkata-kata ketika di podium. Air matanya menderas sempurna di pipinya yang keriput. Hanya ucapan terimakasih, maaf dan pesan singkat pada murid-muridnya.

Beberapa murid memberi ucapan perpisahan dan kenang-kenangan kepada Bu Yus. Perwakilan guru-guru juga melakukan hal yang sama.

Hampir semua perpisahan memberi nuansa sedih dan haru. Begitu juga perpisahan dengan Bu Yus hari ini.

Tapi tak ada yang lebih mengharukan selain ketika bapak kepala sekolah memberi kata sambutan di podium.

Beliau berdiri lama tanpa kata-kata. Berkali-kali menarik nafas berat dan menahan air mata. Walau setetes akhirnya jatuh juga di wajah tampannya yang berwibawa.

Ketika akhirnya beliau berkata-kata dengan suara seraknya yang terputus-putus, semua diam dalam isakan.

"....jika saja halal bagi saya, saya ingin memeluk dan mencium Bu Yus. Berterimakasih dan meminta maaf. Dengan perantaraan beliaulah saya berdiri di sini. Saya bisa menyelesaikan pendidikan dan bisa sesukses sekarang. Saya ingin menciumi tangan keriputnya, sepasang tangan luar biasa yang menampar saya di hari kematian ibu saya ketika saya katakan saya tak mau sekolah lagi. Tangan yang saya patahkan karena marah saat itu, tapi kemudian mengusap kepala saya dan mengatakan bahwa almarhumah ibu saya menunggu kesholehan saya, kesuksesan saya...."

"....Saya ingin memeluk Bu Yus yang dengan gaji honornya 60 ribu per bulan dua puluh tahun lalu setiap hari membawakan saya sarapan, membelikan saya makan siang dan mengantar makan malam saya ke rumah, saat bahkan ayah saya tak peduli dan memilih menikah lagi ketika makam ibu saya masih merah dan basah"

"Guru kalian yang luar biasa ini, anak-anakku, adalah guru bapak dulu sampai sekarang. Bahwa beliau bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tapi juga mendidik bapak arti hakiki kehidupan..."

"Tangan kanan beliau yang kalian sering ejek dengan kata pengkor, tangan yang tak lurus dan mengecil itu, adalah tangan luar biasa yang bapak patahkan dua puluh tahun lalu karena menampar bapak dalam rangka mendidik bapak. Padahal seandainya tangan itu tak menampar bapak, tangan itu mungkin masih sempurna baik-baik saja kini, tapi mungkin bapak juga tak berdiri di sini. Mungkin bapak akan jadi gelandangan seperti kebanyakan orang putus asa lainnya...."

"Beliau adalah orang yang menyekolahkan bapak dulu, padahal beliau bukanlah guru bapak yang paling kaya saat itu...."

"Ketika wisuda, bapak pulang kampung mencari beliau di sekolah bapak dulu. Tapi tak bertemu. Tahun lalu, tak sengaja bertemu beliau lagi yang ternyata mengabdi di sini...."

"Bu, terimakasih atas pengabdian, cinta dan ketulusanmu pada kami murid-murid mu..."

"Kami, murid-murid mu yang telah banyak menyusahkan mu. Semoga berkah hidupmu, wahai guruku"

Bapak kepala sekolah menutup kata sambutannya dengan suara seraknya sambil berlutut. Serentak perlahan seluruh siswa berlutut. Seluruh guru menangis dengan perasaannya masing-masing.

Bu Yus yang sederhana tersenyum sambil bersimbah air mata

 😭😭😭❤️❤️❤️💐💐💐

Tidak ada komentar:

Posting Komentar