Jumat, 18 September 2015

Cara Membangun Kecerdasan Emosional Anak Sejak Dini

membangun kecerdasan emosional anak
Untuk membangun kecerdasan emosional anak membutuhkan waktu yang panjang dan ketekunan yang ulet.  Mengingat karakteristik dunia yang bersifat membangun dan merusak.  Di sisi lain kita dengan segenap energi berusaha untuk mendidik anak agar menjadi anak yang berprestasi namun di sisi lain ada energi lain yang berusaha untuk menghancurkan terutama perusakan moral anak.  Tugas ini akan menjadi berat manakala kita tidak bisa memilah-milah informasi yang masuk khususnya kepada anak.

Kecerdasan emosional merupakan bagian yang sangat penting dalam membentuk anak yang berkepribadian, berkarakter dan berjiwa tinggi.  Apalah artinya anak dengan kecerdasan intelektual yang tinggi namun jiwanya mudah marah, mudah gelisah, tidak bisa menahan emosi dan hal negatif lainnya yang berkaitan dengan kondisi emosional anak.  Anak dengan kondisi emosional yang buruk akan tidak disukai temannya dan anak akan kesulitan dalam membangun pergaulan sehari-harinya.

Dalam membentuk kecerdasan emosional anak dibutuhkan kerjasama antar orang tua dan anak.  Ayah dan ibu harus bisa menjadi teladan yang baik agar anak bisa meniru.  Karena faktor keteladanan memberikan sumbangsih yang besar dalam membentuk kecerdasan emosional anak.  Kecerdasan emosional atau yang biasa disebut dengan Emotional Intellegence bisa kita bentuk sejak anak usia dini.  Pembentukkan ini akan lebih mudah apabila dimulai sejak anak usia dini.

Lalu bagaimanakah cara yang efektif dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak?  Adakah cara sederhana meningkatkan kecerdasan emosional anak dengan cara yang mudah?  Dan stimulasi apa yang bisa kita berikan kepada anak agar anak memiliki EQ yang baik?

Berikut ini adalah cara untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan emosional anak
1. Mengembangkan kasih sayang afirmasif

Hubungan yang baik antara anak dan orang tua akan bisa menumbuhkan rasa percaya diri anak.  Efek positif tersebut akan bisa bertahan hingga jangka panjang.  Karena citra diri anak hanya bisa dibangun dengan sikap saling terbuka dan sikap saling menyayangi antara anak dan orang tua.  Oleh karena itu para orang tua sebaiknya meluangkan waktu untuk menemani anak walaupun sebentar.  Waktu yang sebentar ini harus dilakukan dengan rutin.  Sebentar tapi rutin lebih baik daripada lama tapi tidak konsisten.

Kasih sayang afirmasif ini bisa kita berikan dengan

a. Memberikan pujian kepada anak manakala anak berperilaku baik.  Berikan pujian kepada anak dengan tulus dan sesuaikan dengan kenyataan yang telah dilakukan anak.
b. Menunjukkan minat kita terhadap apa yang dilakukan anak.  Misalnya anak sedang bermain, maka kita bisa ikut menemani anak bermain dan tunjukkan bahwa kita juga berminat terhadap permainan anak.
c. Tidak memberikan perintah kepada anak dan jangan banyak bertanya kepada anak.
d. Membuat kesepakatan dalam rangka untuk mendisiplinkan anak.  Buat perjanjian dengan anak manakala anak berperilaku tidak baik, begitu pula sebaliknya.

2. Mendidik tata krama kepada anak

Tata krama sangat penting dalam membentuk kecerdasan emosional anak.  Tata krama ini akan berkaitan erat dengan orang lain.  Termasuk di dalamnya bagaimana bersikap kepada yang lebih tua, bersikap kepada orang yang baru dikenal.

Contoh dalam memberikan tata krama kepada anak

a. Memberikan arahan kepada anak untuk senantiasa memberikan salam kepada orang yang dijumpai.  Bisa dengan mengucapkan salam ataupun kata-kata perjumpaan lainnya.  Ajarkan hal ini sejak dini agar anak terbiasa hingga anak dewasa.
b. Jika anak berkenalan dengan orang baru maka latihlah untuk berjabat tangan.
c. Biasakan kepada anak untuk mengucapkan terima kasih apabila ada orang lain yang melakukan kebaikan.

3. Menumbuhkan rasa empati anak

Rasa empati anak rata-rata akan muncul dan tumbuh manakala anak sudah berusia 6 tahun.  Rasa empati anak akan bertambah manakala anak sudah memasuki usia 10 hingga 12 tahun.  Rasa empati pada usia ini tidak akan hanya berlaku pada teman yang dikenalnya saja namun anak sudah mulai untuk berempati terhadap orang lain yang belum dikenalnya.

Contoh untuk menumbuhkan rasa empati pada anak

a. Ajarkan kepada anak tentang rasa peduli dan rasa tanggung jawab.
b. Melibatkan anak kepada kegiatan yang bersifat pelayanan masyarakat
c. Melatih anak untuk memberikan infak atau sedekah kepada orang lain dan biarkan anak yang memberikan.
d. Mengajak anak untuk menengok temannya yang sedang sakit.

4. Mengajarkan kejujuran dan berpikir realistis kepada anak

Ketika melihat anak berbohong maka segera perbaiki dan beri nasehat.  Jangan biarkan anak berbohong karena kebiasaan ini akan bisa berlanjut hingga anak dewasa.  Berbohong adalah hal yang bisa mengikis rasa kepercayaan dan merenggangkan persahabatan.  Kita bisa mengajarkan tentang kejujuran kepada anak dengan cara membacakan cerita dan kisah teladan tentang buah dan manfaat dari kejujuran.

Kejujuran yang terbangun pada anak akan membuat anak untuk berpikir realistis.  Karena anak tidak akan menutup-nutupi kekurangan.  Anak akan terlatih untuk menhadapi kenyataan dan tidak akan menutupinya dengan kebohongan.

Kecerdasan emosional anak harus distimulasi sejak anak usia dini.  Luangkan waktu minimal 20 menit setiap harinya untuk memberikan dan menemani anak.  Bangun komunikasi yang baik dengan anak agar terjalin hubungan keluarga yang harmonis yang akhirnya bisa menghantarkan anak menemukan jati dirinya dan siap untuk menghadapi tantangan jaman dengan segala permasalahannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar