Minggu, 23 Agustus 2015

Stifin: Mengenali Keunggulan Diri untuk Menjadi Lebih Baik

Catatan Pengalaman Peserta WSL 1 (Mugniar) Repost

Bersyukur sekali saya mendapatkan undangan Workshop Level 1 (WSL 1) Stifin dari Ibu A. Sengngeng. Ibu A. Sengngeng adalah istri dari Pak Alif – kawan SMA saya. Tentang Stifin sudah pernah saya dengar sebelumnya dari suami yang sebelumnya telah mendapatkan informasi tentang Stifin dari kawan-kawannya.
Saya penyuka pengetahuan mengenai kepribadian manusia, Stifin memberikan hal tersebut maka sudah tentu saya tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Apalagi setelah Sengngeng mengatakan saya boleh datang dengan suami, makin bersemangatlah saya.
 
Saya mendiskusikan dulu beberapa hal dengan suami. Kami meminta Kak Nur – seorang kerabat kami untuk datang menemani anak-anak di rumah. Beruntung Kak Nur sedang tak punya halangan untuk itu. Tak selalu ia punya kesempatan, saya dulu pernah beberapa kali memintanya datang tetapi berbagai hal terjadi di luar kendalinya, membuat ia tak bisa datang ke rumah.

***

Hampir saja saya terlambat mengikuti tes Stifin karena beberapa hal terjadi di luar kendali. Beruntung saya masih bisa ikut, lima menit sebelum tes ditutup.

Farid Poniman
Apa itu tes Stifin?
Tes Stifin adalah tes yang dilakukan dengan cara memindai (men-scan) ujung dari kesepuluh jari tangan kita. Waktunya singkat saja, bisa kurang dari satu menit. Kesemua sidik jari membawa informasi tentang susunan syaraf yang kemudian dianalisa dan dihubungkan dengan belahan otak tertentu yang dominan berperan sebagai sistem operasi dan sekaligus menjadi mesin kecerdasan kita.
Pemindaian sidik-sidik jari saya berlangsung alot. Entah mengapa jari manis kanan saya sulit terlacak. Error. Setelah berkali-kali dicoba, bahkan sampai diulang barulah bisa terbaca oleh alat yang digunakan.
Teringat petugas eKTP yang mengambil sidik jari saya dua tahun lalu. Petugas itu sampai berkeringat karena sidik jari saya sulit terbaca pada alat scan yang digunakan. Entah ada apa dengan sidik jari saya sampai sesulit itu mendeteksinya secara elektronik.
Tak jauh dari tempat tes Stifin, sementara berlangsung workshop sesi 1, dibawakan langsung oleh Pak Farid Poniman – penemu konsep Stifin. Ia menceritakan tentang keungguan konsep ini. Entah sudah seberapa banyak saya tertinggal tetapi saya masih bisa menyimak sebagian penjelasannya sebelum masuk sesi berikutnya.
Peserta WSL 1 banyak sekali. Panitia berulang kali menambah kursi untuk mereka yang baru datang, termasuk saya dan suami. Saya memasang telinga baik-baik. Farid Poniman menyebut-nyebut tentang genetika, DNA, dan gelombang otak.
Stifin menganut konsep kecerdasan tunggal. Kecerdasan tunggal lebih mampu menjelaskan realitas otak dalam keseharian. Dalam konsep Stifin, setiap orang memiliki seluruh otak, namun hanya ada satu yang memimpin.
Hasil tes Stifin menunjukkan adanya 5 mesin kecerdasan, yaitu: Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Instinct. Dalam otak kita ada 5 jenis kecerdasan itu tetapi hanya  1 pemimpinnya. Hasil tes Stifin ini juga menjawab 2 pertanyaan ini: di mana letak belahan otak dominan dan pada belahan otak yang dominan tersebut dimana lapisan otak yang dominan.
Dari uraian yang diberikan penemu Stifin ini, bisa ditarik kesimpulan  bahwa mengetahui mesin kecerdasan akan berdampak baik bagi diri kita karena yang dibaca adalah keadaan genetika yang memang ada di dalam diri, bukan sekadar tebak-tebakan kosong. Dari sini, kita bisa benar-benar mengetahui diri kita, mengekspos sisi kekuatan dan meminimalisir sisi kelemahan.
Misalnya saja, Farid Poniman menjelaskan tentang perbedaan tipe sensing dan intuiting. Orang sensing mengolah makanan menjadi otot berwarna merah. Otot jenis ini menyimpan tenaga aerobik – untuk stamina. Itu makanya, biasanya orang tipe sensing lebih kuat secara fisik.
Sementara orang tipe intuiting menyimpan makanannya menjadi otot putih yang menjadi tenaga anaerobik. Oksigen yang tersimpan lebih sedikit. Tenaga anaerobik cocok untuk proses kreatifitas. Orang tipe ini biasanya tidak suka pekerjaan fisik.

Farid Poniman memberi lagi contoh dua orang dengan tipe berbeda dalam berdagang pakaian. Keduanya mengambil pakaian di Pasar Butung, untuk dijual kembali. Misalkan harga baju yang dibeli sama: Rp. 10.000. Orang sensing langsung menjual kembali baju yang dibelinya walaupun dengan mengambil untung hanya seribu rupiah per lembar. Orang sensing tidak sungkan untuk menjajakan barang dagangannya.
Sementara orang intuiting, merasa enggan untuk menjajakan barang dagangannya. Istilah Farid Poniman – orang intuiting merasa “terhina” maka dia memodifikasi baju yang akan dijualnya dengan memberi tambahan aksesori atau printilan (value added) semisal payet atau bordir lalu dijual kembali seharga Rp. 50.000.
Ini bukanlah hal yang dibuat-buat atau menunjukkan ada yang lebih bagus daripada yang lain. Bukan. Masing-masing tentunya punya kekurangan dan kelebihan, hanya perlu dipahami dan dikontrol, juga dimaksimalkan.
Farid Poniman yang juga penulis buku Kubik Leadership (bersama Jamil Azzaini dan Indra Nugroho) ini menceritakan berbagai hal menarik tentang tipe-tipe yang lain: feeling, thinking, dan instinct. Seperti ciri-ciri fisik, chemistry, dan hubungan antara antropologi dan mesin kecerdasan. “Beda orang, beda kodrat,” demikian pungkas Farid Poniman.
Hm, menarik. Saya mengamati penggolongan kepribadian tipe Hippocrates Galenus sejak tahun 1995 (penggolongan tipe koleris, melankolis, phlegmatis, dan sanguinis). Mencoba mempelajarinya untuk mengerti diri saya dan orang lain. Ternyata teori ini dapat juga dibedah menggunakan STIFIn, begitu pun penggolongan-penggolongan lain yang dikenal dalam ilmu psikologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar