Senin, 14 November 2022

Boleh Pintar, tapi Integritas dan Kejujuran lebih penting

Minggu yang lalu, saya tersentak, begitu membaca sebuah tulisan teman di salah satu media sosial. Saya berpendapat bahwa informasi ini wajib saya bagikan lagi, agar lebih banyak lagi orang  mengetahuinya, sehingga bisa menjadi ibrah dan pelajaran dalam hidup dan kehidupan

Pesan moral yang sangat berharga bisa kita petik dari kisah nyata ini. Karena penyesalan selalu datang terlambat, ketika nasi sudah menjadi bubur, atau kadang saat peristiwa buruk telah terjadi, barulah kita menyadari.

Kutipan penting dari cerita ini, “Boleh Pintar, tapi Integritas dan Kejujuran lebih penting”

Ceritanya begini:

Dua belas tahun silam, seorang wanita dari Asia (tak usah sebut nama negaranya) datang ke Perancis untuk kuliah di salah satu universitas terkenal di Paris. Dia memang cerdas, dan bahasa Inggrisnya juga sangat fasih, sehingga ia lulus seleksi.

Sejak mulai kuliah hari pertama, dia memperhatikan bahwa sistrem transportasi di Paris menggunakan system otommatis. Artinya kita beli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin.

Setiap perhentian kendaraan memakai cara self-service dan jarang sekali diperiksa petugas. Bahkan pemeriksaan insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada, karena bukan manajemen manual , tapi unsur *_trust*_ dan tertib social di system transportasi kota Paris memang sudah baik.

Akhirnya lama-kelamaan dia menemukan kelemahan dari system ini. Dan dengan kelihaiannya itu dia bisa naik transportasi umum tanpa harus beli tiket dan dia sudah memperhitungkan kemungkinan tertangkap petugas karena tidak beli tiket sangat kecil. Sejak itu dia selalu naik kendaraan umum dengan tidak membayar tiket


Ia justru menganggapnya sebagai salah satu cara penghematan sebagai mahasiswa miskin yang dengan cara apapun kalau bisa irit, ya diirit. Dia bahkan merasa bangga karena dianggapnya itu sebagai sebuah kehebatan yang tidak bisa dilakukan oleh orang kebanyakan atau orang awam,

Empat tahun berlalu, perempuan muda itu pun tamat dengan nilai _cum laude_ dari fakultas favorit dan universitas ternama di Paris dengan angka indeks prestasi kumulatif (IPK) yang sangat memukau.

Hal itu membuat dirinya penuh percaya diri.

Setelah di wisuda, gadis itupun mulai mengajukan aplikasi surat lamaran kerja ke beberapa perusahaan ternama di Paris. Pada mulanya, semua perusahaan yang dikirimi surat lamaran via email merespon dengan sangat baik karena IPKnya yang tinggi dan lulusan universitas top di Paris.

Tetapi beberapa hari kemudian, semua perusahaan menolaknya dengan berbagai alasan. Hal ini terus terjadi berulang kali sampai akhirnya membuatnya merasa jengkel dan marah.


Dia bahkan sampai menuding perusahaan-perusahaan itu rasis karena tidak mau menerima warga Negara asing meski lulus _cum laude_ dari universitas ternama di Paris.

Akhirnya pada suatu hari, karena penasaran bercampul kesal ia memutuskan untuk mengadukannya ke departemen tenaga kerja di paris Perancis.

Dia ingin melapor sekaligus ingin tahu kenapa perusahaan-perusahaan tersebut menolaknya, tapi, ketika bertemu dengan salah satu manager di kantor Depnaker Paris tersebut ia mendapatkan penjelasan di luar perkiraannya. Berikut adalah dialog mereka:

*manager*: nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkan anda.

Pada saat anda mengajukan aplikasi pekerjaan di perusahaan, kami sangat terkesan dengan nilai akademis dan pencapaian anda.


Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, anda sebenarnya adalah golongan pekerja yang kami cari-cari”.

*Nona*:

Kalau begitu kenapa perusahaan-perusahaan tersebut tidak menerima saya bekerja?

*Manager*

Jadi begini, setelah kami periksa di *database* kami menemukan data bahwa nona pernah tiga kali kena sanksi tidak membaya tiket saat naik kendaraan umum.

*Nona*

(Kaget): ya saya mengakuinya, tapi apakah karena “perkara kecil”tersebut semua perusahaan menolah saya?

*Manager*

Perkara kecil?

Kami tidak menganggap itu perkara kecil nona.

Kami lihat di database, anda pertama kali melanggar hukum, terjadi di minggu pertama anda masuk Negara ini.

Saat itu petugas percaya dengan penjelasan anda, bahwa anda masih belum mengerti system transportasi umum di sini. Itu sebabnya kesalahan tersebut diampuni. Namun anda tertangkap dua kali setelah itu.

*Nona*

Oh, waktu itu karena tidak ada uang kecil saja.

*Manager*

Tidak, tidak. Kami tidak bisa menerima penjelasan anda.

Jangan anggap kami bodoh, kami yaki anda telah melakukannya ratusan kali sebelum tertangkap.

*Nona*

Well, baiklah, tapi itu kan “bukan kesalahan mematikan….?. kenapa harus begitu serius lain kali saya perbaiki dan berubah, kan masih bisa.

*Manager*

Maaf. Kami tidak menganggap demikian nona, perbuatan anda membuktikan dua hal: pertama: “anda tidak mau mengikuti peraturan yang ada. Anda pintar mencari kelemahandalam memanfaatkannya bagi diri sendiri.

Kedua “anda tidak bisa dipercaya

Manajer

Banyak pekerjaan di berbagai perusahaan di Negara Perancis, tergantung pada kepercayaan atau “trust”. Jika anda diberikan tanggung jawab atau tugas di suatu wilayah, maka anda akan diberikan kuasa yang besar, karena efisiensi biaya, maka kami tidak akan memakai system control untuk mengawasi pekerjaanmu.

Hampir semua perusahaan besar di Paris ini mirip dengan system transportasi di negeri ini., oleh sebab itu. Kami tidak bisa menerima anda, nona. Dan saya berani katakana, di Negara kami, bahkan seluruh Eropa tidak akan ada perusahaan yang mau menggunakan jasa anda.


Pada saat itu nona ini seperti tertampar, dan terbangun dari mimpinya dan merasa sangat menyesal. Tapi penyesalan selalu datang terlambat ketika nasi sudah jadi bubur dan peristiwa buruk telah terjadi.

Perkataan manager yang terakhir membuat hatinya bergetar dan sangat menyesal. Ia akhirnya terdiam seribu bahasa tidak bisa berkata apapun.

Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita bersama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POSTINGAN UNGGULAN

Boleh Pintar, tapi Integritas dan Kejujuran lebih penting

Minggu yang lalu, saya tersentak, begitu membaca sebuah tulisan teman di salah satu media sosial. Saya berpendapat bahwa informa...