Jumat, 18 Oktober 2019

MENGURANGI SAMPAH PLASTIK DENGAN MENGGUNAKAAN BOTOL ISI ULANG DI SMA 7 WAJO


Oleh Nurdin M, S.Pd

Dampak plastik terhadap lingkungan merupakan akibat negatif yang harus ditanggung alam karena keberadaan sampah plastik. Dampak ini ternyata sangat signifikan. Sebagaimana yang diketahui, plastik yang mulai digunakan sekitar 50 tahun yang silam, kini telah menjadi barang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik per menit. Untuk membuatnya, diperlukan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang.
Konsumsi berlebih terhadap plastik, pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.
Kantong plastik terbuat dari penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Minyak, gas dan batu bara mentah adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Semakin banyak penggunaan palstik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam tersebut.
Fakta tentang bahan pembuat plastik, (umumnya polimer polivinil) terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang mempunyai struktur mirip DDT. Serta kantong plastik yang sulit untuk diurai oleh tanah hingga membutuhkan waktu antara 100 hingga 500 tahun.

Untuk menanggulangi sampah plastik beberapa pihak mencoba untuk membakarnya. Tetapi proses pembakaran yang kurang sempurna dan tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna maka akan menjadi dioksin di udara. Bila manusia menghirup dioksin ini manusia akan rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi.
Kita memang tidak mungkin bisa menghapuskan penggunaan kantong plastik 100%, tetapi yang paling memungkinkan adalah dengan memakai ulang plastik (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce), dan mendaur ulang (recycle). Terakhir, mungkin perlu regulasi dari pemerintah untuk meredam semakin meningkatnya penggunaan plastik.
Bahaya sampah plastik yang mencemari lingkungan sudah sangat mengkhawatirkan. Sebagai masyarakat, kita perlu turut andil dalam mengurangi pencemaran akibat sampah plastik ini. Bukan hanya orang dewasa saja, anak-anak juga harus memiliki kesadaran bijak plastik sejak dini untuk membantu mengurangi dampak sampah plastik.
Mengajarkan anak-anak untuk bijak plastik tidak hanya bisa dilakukan di rumah. Aksi mengurangi dampak sampah plastik juga bisa dilakukan anak-anak di lingkungan sekolah. Ajak anak menjadi pelopor kesadaran bijak plastik di sekolah dengan 8 aksi sederhana ini,
SMA 7 WAJO SEBAGAI TEMPAT UNTUK PEDULI GERAKAN MENGURANGI SAMPAH PELASTIK
( tempat kemasan air minum (gelas dan botol)

SMA 7 Wajo sebagai sekolah dengan jumlah siswa sekitar 100 siswa tentu akan membutuhkan makan minum di sekolah selama waktu belajar sampai sore hari. Makanan dan minuman  siswa itu membawa sendiri dari  rumah masing-masing, sebagian pula membelinya di koperasi siswa atau di kantin sekolah.

Beberapa siswa SMA 7 Wajo yang sempat diinterview  terkait dengan penggunaan air minum kemasan gelas dan botol. 1 siswa menggunakan minimal 4 gelas air kemasan pelastik (250 ml) dan 1 botol kemasan plastik (600 ml). Jumlah penggunaan air kemasan pelastik dengan jumlah siswa SMA 7 Wajo yang cukup besar tentu akan menghasilkan volume sampah plastik yang menjadi masalah, baik tentang kuantitas sampah maupun tentang turunnya kualitas pelestarian lingkungan hidup sekolah.
Sampah dan kebersihan sekolah selalu menjadi masalah serius. Hal inilah, perlu adanya manajemen khusus menanganinya. Tidak cukup dengan adanya petugas kebersihan yang memang ditugasi membersihkan lingkungan sekolah di luar kelas. Dan dana untuk itu  berbilang  cukup besar, untuk balas jasa pemilik faktor produksi (tenaga kerja) itu.
Dengan perkiraan jumlah kasar sampah yang dihasilkan siswa SMA 7 Wajo.
Air gelas kemasan  4 gelas X 950 = 3800 gelas sampah plastik air gelas kemasan.
Ini baru 1 jenis (minuman air putih) yang memang primer dikonsumsi. Belum yang bentuknya makanan yang juga termasuk kebutuhan primer selama  siswa selama berada di sekolah. Kalau kita akumulasi sampah plastik minuman dan makanan tentu lebih banyak lagi jumlahnya. Sehingga masalah sampah plastik di SMA 7 Wajo selalu menjadi masalah yang tak pernah tuntas.
Dengan kondisi seperti di atas warga sekolah mencari upaya dan solusi untuk mengatasi problem sampah di SMA 7 Wajo, yang pernah meraih sekolah "Adiwiyata Mandiri Nasional" tahun 2014. Upaya yang akan dilakukan dengan cara :
  1. Medisiplinkan siswa menjaaga kebersihan dalam dan di depan kelasnya masing-masing (lazim)
  2. Mendisplinkan petugas kebersihan sekolah (cleaning servis), membersihkan lokasinya yang telah ditentukan (lazim)
  3. Menghimbau kepada warga sekolah untuk membiasakan membawa botol isi ulang dari rumah masing-masing (baru)
  4. Mengurangi konsumsi air minum dan makanan kemasan plastik.
  5. Menghinadari penggunaan pipet plastik, sebainya gunakan pipet pakai ulang (steenlis) (baru)
Stasiun Air Isi Ulang Untuk Minum, Solusi Untuk Mengurangi Sampah Air Minum Kemasan  di SMA 7 Wajo.
Kebiasaan membawa botol air minum sendiri nampaknya sudah mulai dilupakan oleh siswa-siswi saat ini. Mereka cenderung memilih membeli minuman di kantin atau warung yang ada di sekitar sekolah.
Dari pihak sekolah untuk menata dan menetapkan aturan sangat diharapkan sebagai penentu kebijakan yang didukung oleh stake holder sekolah. Ini terkait bagaimana sekolah bisa mengatasi masalah sampah plastik
Untuk mengurangi dampak sampah plastik, alangkah lebih baik jika setiap sekolah menghimbau koperasi siswa dan kantin sekolah untuk menjual air melalui stasiun air isi ulang untuk minum siswa-siswinya. Pihak sekolah juga menghimbau para siswa dan pembina untuk membawa botol air minum sendiri untuk diisi ulang di stasiun isi ulang air yang ada di sekolah.
(Nurdin M.S Sengkang, 20 Oktober 2019)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar