Kamis, 16 Juli 2015

SIRI’ SEBAGAI SIKAP DAN FALSAFAH HIDUP MASYARAKAT BUGIS MAKASSAR

Oleh : Abdi eL_Machete

Prolog
Siri’ yang merupakan konsep kesadaran hukum dan falsafah masyarakat Bugis-Makassar adalah sesuatu yang dianggap sacral. Begitu sakralnya kata itu, sehingga apabila seseorang kehilangan Siri’nya atau De’ni gaga Siri’na, maka tak ada lagi artinya dia menempuh kehidupan sebagai manusia. Bahkan orang Bugis-Makassar berpendapat kalau mereka itu sirupai olo’ kolo’e (seperti binatang). Petuah Bugis berkata : Siri’mi Narituo (karena malu kita hidup). Untuk orang bugis makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi daripada menjaga Siri’nya, dan kalau mereka tersinggung atau dipermalukan (Nipakasiri’) mereka lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan Siri’nya dari pada hidup tanpa Siri’.

Nilai Siri’ orang Bugis dan Makassar juga sangat mirip dengan semangat Bushido kaum Samurai Jepang. Kedua nilai tersebut mulai ditinggalkan namun dengan tingkat emosi berbeda. Jepang dengan harakirinya memiliki fislosofi rasa malu harus berakhir dengan kematian di tangan sendiri. Ini berbeda dengan Siri’ dari bugis-makassar yang berarti tidak selamanya harus mati, tapi masalah itu harus tuntas setunta tuntasnya, tidak ada kata pasrah, justru merekapun menganggap mati berarti pasrah dan tak mampu lagi mengatasi masalah. Dan tentunya karena latar belakang Religius maka hal tersebut tidak diperbolehkan.
Siri’ adalah rasa malu yang terurai dalam dimensi-dimensi harkat dan martabat manusia, rasa dendam ( dalam hal-hal yang berkaitan dengan kerangka pemulihan harga diri yang dipermalukan ). Jadi Siri’ adalah sesuatu yang tabu bagi masyarakat Bugis-Makassar dalam interaksi dengan orang lain.
Telah diiuraikan dalam lontara masyarakat bugis Makassar terdahulu yang telah diwariskan kepada masyarakat masa kini bahwa watak atau falsafah hidup yang dipegangi oleh masyarakat bugis Makassar itu sebagaimana tergambarkan sebagai berikut:
–          “Aja mupakasiriwi, matei tu” (janganlah dipermalukan dia, sebab dia akan lebih memilih mati daripada dipermalukan)
–          “Aja mullebbaiwi, nabokoiko tu” (janganlah kecewakan dia, sebab bila dia dikecewakan pasti dia akan meninggalkan anda)
Hal tersebut diatas adalah memiliki hubungan yang sangat erat dengan prinsip orang-orang bugis Makassar, antara lain: “Iamua narisappa warangparange, nasaba’ rialai pallawasiri’ narekko siri’ ba’na lao, sungenatu naranreng” (sesungguhnya harta benda sengaja dicari dan disediakan untuk menutup malu. Jika kita dipermalukan, maka harta tak ada gunanya lagi, tetapi yang akan bicara adalah nyawa/mayat). Hal ini diperjelas lagi oleh ungkapan untuk seorang perempuan bugis bila dia dikecewakan oleh suaminya yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah : “ kecintaanku yang tulus dan ikhlas kepadamu bagaikan benteng kokoh, namun ia dapat dirobohkan oleh rasa kecewa yang timbul”
Jadi, proses kepribadian yang menjiwai orang bugis Makassar yakni : jangan dipermalukan. Sebab ia akan lebih baik memilh mati daripada dipermalukan, kemudian jangan sampai ia di hina serta jangan sampai ia dikecewakan karena pasti akan meninggalkan anda.

Siri’ sebagai Falsafah Masyarakat Bugis Makassar
Layaknya sebuah tradisi, maka secara turun temurun ini akan menjadi pegangan serta pedoman. Bila mana pada suatu generasi penafsirannya meleset, maka akan berdampak ke generasi berikutnya. Jika terjadi disintegrasi terhadap penafsiran tentang nilai Siri’ ini, maka tentunya akan berdampak kepada kelanjutan eksistensi falsafah kepada generasi yang akan datang, inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran banyak pihak termasuk saya pribadi sehingga harus di luruskan agar kedepannya ini tetap bisa menjadi pedoman, pegangan serta cii khas masyarakat Bugis-Makassar kedepannya.
Dasar falsafah hidup yang menjiwai dan menjadi pegangan orang-orang bugis Makassar untuk senantiasa hidup baik di negeri sendiri atau negeri orang lain adalah menjadi manusia yang perkasa dalam menjalani kehidupan. Setiap manusia keturuna bugis Makassar dituntut harus memiliki keberanian, pantang menyerah menghadapi lawan ataupun ujian hidup. Itulah sebabnya maka setiap orang yang mengaku sebagai orang bugis Makassar memiliki orientasi ke arah delapan penjuru mata angin, yakni mampu menghadapi apapun.
Hakekat prinsip tersebut bersumber pada leluhur nenek moyang orang bugis Makassar yang tersimpul dengan “duai temmallaiseng, tellui temmasarang” ( dua bahagian yang tak terpisahkan dan tiga bahagian yang tak terceraikan)
Nilai siri’ dapat dipandang sebagai suatu konsep cultural yang memberikan impact aplikasi terhadap segenap tingkah laku nyata. Tingkah laku itu dapat diamati sebgai pernyataan ataupun perwujudan kehidupan masyarakat bugis Makassar.
Apabila kita mengamati pernyataan-pernyataan dari nilai siri’ ini atau lebih konkritnya mengamati kejadian-kejadiannya berupa tindakan,perbuatan atau tingkah laku yang katanya dimotivasi  oleh siri’ maka akan timbul kesan bahwa nilai siri’ itu pada bagian terbesar  unsurnya dibangun oleh perasaan, sentimentality oleh emosi dan sejenisnya. Kemudian penafsiran yang berpijak kepada melihat kejadian-kejadian yang timbul akibat penafsiran siri’, misalnya: malu-malu, aib, iri hati, kehormatan dan harga diri, dan kesusilaan. Cara melihat seperti ini jelas merupakan sebuah cara pandang yang kurang lengkap terutama apabila hendak mengamatinya dari sudut konfigurasi kebudayaan. Sebab hal tersebut merupakan sebuah nilai yang bukan hanya sebuah nilai kebudayaan akan tetapi juga merupakan sebuah nilai/falsafah hidup manusia.
Kemudian, hakikat kebenaran dari falsafah inilah yang mulai surut dalam setiap tingkah laku maupun tindakan kolektif masyarakat Bugis – Makassar. Sebagai seorang putera Bugis asli, disintegrasi semacam ini sudah lama terlihat oleh mata kepala sendiri. Bagaimana rasa malu yang tidak ditempatkan pada tempat semestinya, mendahulukan rasa amarah ketimbang sikap rasional dalam memahami suatu permasalahan. Jika kita berkaca pada peristiwa peristiwa yang terjadi di Provinsi Sulawesi-Selatan. Mulai dari demonstrasi yang selalu berakhir dengan chaos, sampai kepada prilaku bermasyarakat yang mulai berujung kepada konflik konflik. Distintegrasi seperti inilah yang kemudian berpotensi untuk melahirkan ketidakstabilan dalam kehidupan sosil bermasyarakat dimasa yang akan datang.
Kemudian, apabila kita ingin mendalami makna siri’ dengan segenap permasalahannya, antara lain dapat diketahui dari lontara La Toa. Dimana dalam lontara ini berisi pesan-pesan dan nasehat-nasehat yang merupakn kumpulan petuah untuk dijadikan sebagai suri teladan. Kata La Toa sendiri sejatinya memiliki arti petuah-petuah yang dimana juga memilki hubungan yang erat dengan peranan siri’ dalm pola hidup atau adat istiadat orang bugis Makassar (sebuah falsafah hidup). Misalnya dapat kita lihat beberapa point dalam lontara tersebut :
–          Siri’ sebagai harga diri ataupun kehormatan
–          Mapappakasiri’ artinya dinodai kehormatannya
–          Ritaroang Siri’ yang artinya ditegakkan kehormatannya
–          Passampo Siri’ yang artinya penutup malu
–          Siri’ sebagi perwujudan sikap tegas demi sebuah kehormatan hidup.
Kata siri dapat juga diartikan sebagai pernyataan sikap yang tidak serakah dan sebagai sebuah pendirian (prinsip hidup) didaerah bugis Makassar. Ungkapan-ungkapan seperti : siri’ na ranreng (siri’ dipertaruhkan demi kehormatan), palaloi siri’nu (tantang bagi orang yag melawanmu/mempermalukanmu), tau de’ siri’na (orang tak memiliki malu tak memiliki harga diri) merupakan semboyan-semboyan falsafah hidup orang-orang bugis Makassar.
Bahkan berbagai petuah-petuah yang kesemuanya tergambar dalam La Toa memiliki nilai sastra yang sangat tinggi sebab disusun oleh pujangga yang terbaik di zamannya. Karenanya dapat disimpulkan bahwa kata silariang ( minggat) adalah salah satu aspek daripada siri’ tersebut. Juga sangat erat hubungannya dengan harga diri dalam artian yang luas ( aspek-aspek identitas keagungan pribadi bangsa pemiliknya. Selain itu, siri’ dalam falsafah hidup orang bugis Makassar juga mengandung nilai-nilai kehormatan atau kebanggaan serta sebagai sebuah identitas orang-orang bugis Makassar.
Ungkapan-ungkapan sikap-sikap orang-orang bugis Makassar yang termanifestasikan lewat kata-kata : taro ada’ taro gau (satu kata satu perbuatan), merupakan tekad atau cita-cita dan janji yang telah di ucapkan pastilah dipenuhi dan dibuktikan dalam perbuatan nyata. Hal tersebut juga sejalan dengan prinsip-prinsip abattireng ripolipukku (asal usul leluhur senantiasa di junjung tinggi, semuanya ku abadikan demi keagungan leluhurku).
Kemudian satu hal yang perlu diperhatikan disini yakni manakala harga diri orang-orang bugis Makassar tersebut disinggung yang karena hal tersebut melahirkan aspek-aspek siri’, maka diwajibkan bagi yang terkena siri’ itu untuk melakukan aksi tantangan. Hal tersebut dapat berupa aksi perlawanan perorangan ataupun aksi perlawanan secara berkelompok. Tergantung nilai siri’ yang timbul dari ekses-ekses kasus yang lahir tersebut. Sehingga bagi pihak yang terkena siri’ kemudian bersikap bungkam tanpa ada perlawanan maka akan dijuluki sebagi oaring yang tak punya rasa malu (tau tena siri’na).
Dengan demikian, dapatlah dibayangkan betapa besar pengaruh nilai-nilai siri’ itu bagi sikap dan falsafah hidup bagi orang-orang bugis Makassar pada umumnya.
Kemudian, perlu juga dipaparkan disini bahwa pada zaman dahulu masalah-masalah siri’ yang timbul kebanyakan penyelesaiannya harus dibayar dengan bergelimpangan mayat atau dengan kata lain dibayar dengan pertumpahan darah. Yakni dengan menumpahkan darah orang yang menjadi sumber adanya siri’ tersebut sebagai tebusannya.
Betapa tinggi nilai dan arti siri’ ini bagi orang-orang suku bugis Makassar, sebagaimaa apa yang telah di uraikan diatas. Dimana secara garis besar dapat kita tarik sebuah benang merah berdasarkan analisa-analisa diatas bahwa sesungguhnya peranan siri’ yang telah menjadi alam bawah sadar masyarakat bugis Makassar ini merupakan nilai falsafah dan sikap yang menjadi perwujudan dari manusia bugis Makassar.

Jenis-jenis Siri’
Zainal Abidin Farid  membagi siri’ dalam masyarakat bugis Makassar menjadi dua jenis:
–          Siri’ Nipakasiri’, yang terjadi bilamana seseorang dihina atau diperlakukan di luar batas kemanusiaan. Maka ia (atau keluarganya bila ia sendiri tidak mampu) harus menegakkan Siri’nya untuk mengembalikan Dignity yang telah dirampas sebelumnya. Jika tidak ia akan disebut mate siri (mati harkat dan martabatnya sebagai manusia). “ Untuk orang bugis makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi daripada menjaga Siri’nya, dan kalau mereka tersinggung atau dipermalukan (Nipakasiri’) mereka lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan Siri’nya dari pada hidup tanpa Siri’. Mereka terkenal dimana-mana di Indonesia dengan mudah suka berkelahi kalau merasa dipermalukan yaitu kalau diperlakukan tidak sesuai dengan derajatnya. Meninggal karena Siri’ disebut Mate nigollai, mate nisantangngi artinya mati diberi gula dan santan atau mati secara manis dan gurih atau mati untuk sesuatu yang berguna.
Akan tetapi kita harus mengerti bahwa Siri’ itu tidak bersifat menentang saja tetapi juga merupakan perasaan halus dan suci… Seseorang yang tidak mendengarkan orangtuanya kurang Siri’nya. Seorang yang suka mencuri, atau yang tiodak beragama, atau tidak tahu sopan santun semua kurang Siri’nya”.
–          Siri’ Masiri’, yaitu pandangan hidup yang bermaksud untuk mempertahankan, meningkatkan atau mencapai suatu prestasi yang dilakukan dengan sekuat tenaga dan segala jerih payah demi Siri’ itu sendiri, demi Siri’ keluarga dan kelompok. Ada ungkapan bugis “Narekko sompe’ko, aja’ muancaji ana’guru, ancaji Punggawako” (Kalau kamu pergi merantau janganlah menjadi anak buah, tapi berjuanglah untuk menjadi pemimpin).

Siri’ Sebagai Sumber Nilai Motivasi
Apa yang mendorong seorang masyarakat bugis Makassar untuk pada suatu ketika dalam hidupnya melakukan sesuatu yang nekad, memilih menyerahkan milik hidupnya yang terakhir yakni nyawa, kemudian acap kali dikembalikan pada konsep yang dinamakan sebagai siri’. Ia rela mengorbankan apa saja demi tegaknya yang namanya siri’. Katakanlah itu sebuah suatu kesadaran tentang nilai martabat yang didukung oleh tiap-tiap orang dalam tradisi kehidupan masyarakat bugis Makassar.
Ada berbagai ungkapan dalam lontara bugis Makassar yang menunjukkan bahwa siri’ bukanlah sebuah sikap yang semata-mata berpangkal dari luapan emosi. Seperti anak negeri terhina tanpa sebab musabab yang jelas berarti siri’ (martabat) negeri ternoda. Dari sini timbul sebuah kesadaran untuk menghasilkan sebuah pemikiran yang rasional dalm menanggulangi hal-hal yang menyebabkan terjadinya siri’ tersebut. Karena masing-masing orang memiliki nilai siri’ yang sepadan sebagai sebuah nilai hidup bermasyarakat.
Sungguh suatu kebijaksanaan jika kita mencoba mengaitkan nilai-nilai falsafah siri yang ada di masa silam dengan dengan masa kini dengan jalan mentransformasikan nilai-nilai zaman lalu itu ke masa kini agar kita memiliki sebuah akar pertumbuhan yang membumi,. Artinya berpijak pada realitasnya sendiri menuju masa depan dengan kepribadian yag kuat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar