Sabtu, 26 Desember 2020

Reformulasi Perankingan Menuju Peningkatan Karakter Bangsa

Oleh: Amri (Guru SMAN 7 Wajo

Menurut Masayu Indriaty Susanto: Sistem Ranking; 

Toksik Dunia Pendidikan

(dimuat di Riau Pos (14/12/2020)

Sekolah adalah tempat belajar. Bukan arena kompetisi. Namun kenyataannya, siswa kerap "dipaksa” berlomba mengejar peringkat kelas. Persaingan itu bahkan sudah terjadi sejak awal masuk sekolah dasar. 

Target dan beban yang berat akhirnya banyak membuat anak-anak kehilangan senyum mereka.            

Video seorang ibu di Berau, Kalimantan Timur, yang viral beberapa waktu lalu, menyentak kita semua. Di video itu, sang ibu terlihat begitu emosi dan membentak-bentak 

gadis kecilnya yang berseragam pramuka. Duduk, gemetaran dan tersedu-sedu, sambil memegang buku rapor bersampul hijau.


Ibu itu sangat murka, karena sang gadis kecil, siswa salah satu SD di kota itu, “hanya” meraih ranking 3.


Sontak video viral itu menuai kecaman. Para ahli pendidikan, psikolog maupun lembaga perlindungan anak mengecam keras. Mereka berteriak, sistem ranking di sekolah sudah kebablasan, dan saatnya dihapuskan. 

Dr Adi Gunawan, founder Institute of Mind Technology dalam bukunya ”Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan”(2005), mengungkapkan, sistem ranking itu tidak adil dan berbahaya bagi perkembangan konsep diri anak. 

Karena yang menjadi patokan selalu 

nilai rata-rata semua mata pelajaran.           

Jika mendapat ranking bawah, seorang anak akan berpikir secara linier dan cenderung langsung melabel dirinya bodoh.

Akibatnya, anak bisa menjadi minder dan tambah malas belajar. Bahkan bisa pula menjadi korban bullying.    

Padahal, riil-nya, setiap anak itu unik dan punya cara belajar berbeda pula. Sumber daya dan kemampuan siswa dalam belajar pun berbeda. Sangatlah tidak adil jika 

memukul rata kemampuan siswa. 

Bagi yang bisa ikut les bermacam pelajaran dan tercukupi gizinya, akan berbeda dengan siswa yang kurang memiliki waktu belajar. Karena, misalnya, siswa tersebut harus membantu pekerjaan orang tuanya.            

Begitu pula bagi anak yang “langganan” 

juara kelas. Menjadi seorang bintang kelas bisa terbebani secara psikologis, karena dituntut harus selalu menjadi rangking satu. 

Tuntutan bisa jadi dari orang tuanya, 

maupun internal dirinya sendiri. 

Timbul rasa malu kalau harus turun peringkat. Itu dapat memicu terjadinya tindakan negatif. Model pola pikir yang masih sangat belia pada diri anak, memberinya peluang melakukan berbagai cara demi meraih ranking.

Mencontek, mencari bocoran soal, timbul tidak suka atau dendam pada teman yang "merebut" posisi rankingnya, adalah beberapa di antaranya.         

Dr Adi Gunawan menyebutkan, hal itu memunculkan fenomena saat ini, makin banyak orang pandai,  tetapi kejujuran 

justru menurun. 

Fakta ini membuktikan, kepandaian yang tidak diimbangi tingkat spiritualitas yang baik dan kecerdasan emosional yang stabil, 

cenderung merugikan orang lain 

maupun diri anak sendiri.

Cerdas itu 

Banyak Jenisnya           

Howard Gardner, profesor pendidik dan peneliti dari Harvard University, Amerika Serikat mengungkapkan, ada 9 aspek kecerdasan dari seorang anak, yang kerap disebut multiple intelligences.

Yaitu kecerdasan musikal, intrapersonal, interpersonal, visual spasial, naturalis, kinestetik, moral, verbal linguistik, dan logika matematika.          

Seorang anak bisa jadi memiliki satu jenis kecerdasan yang dominan, atau bahkan memiliki beberapa jenis kecerdasan sekaligus (kecerdasan majemuk). 

Oleh karena itu, setiap anak memiliki cara belajar sendiri sesuai dengan jenis kecerdasan yang dominan pada dirinya.         

Anak dengan kecerdasan musikal bisa depresi, jika dituntut harus mendapat 

skor 100 padapelajaran sains. 

Anak dengan kecerdasan kinestetik akan frustasi, jika dipaksa mengikuti

sistem pendidikan yang mengharuskannya duduk mencatat selama 8 jam sehari. 

Bukankah akan sangat tidak bijak, 

jika kita menuntut seorang anak 

harus meraih nilai sempurna 

dalam semua mata pelajaran? 

Tak mungkin pula seekor burung mengalahkan ikan dalam hal berenang? 

Dan manalah pula ikan mengalahkan burung dalam hal terbang? 

Jangan lupakan pula bidang-bidang non akademis. Sesuai konsep multiple intelligences, setiap sekolah idealnya wajib memiliki beragam kegiatan ekstra kurikuler, demi memfasilitasi kecerdasan 

dan bakat anak.       

Anak dengan kecerdasan naturalis bisa mengasah potensinya dalam kegiatan pecinta alam, anak kinestetik dapat mengeksplorasi bakatnya dalam olahraga. 

Anak dengan kecerdasan musikal bisa berkembang lewat kegiatan menari, teater, memainkan berbagai alat musik, atau choir. 

Anak dengan kecerdasan visual spasial bisa dikembangkan bakatnya dengan kegiatan robotika, fotografi dan sinematografi.        

Anak dengan kecerdasan linguistik bisa melatih kemampuannya dalam lomba-lomba pidato. Anak dengan kecerdasan intrapersonal dan interpersonal bisa lebih terasah lewat kegiatan OSIS atau 

organisasi lainnya.

Justru dari kegiatan-kegiatan inilah, 

siswa akan mendapat banyak pelajaran basic life skill yang akan lebih berguna bagi pembentukan karakter dan modal meraih masa depan mereka. Bukan berlomba meraih angka tertinggi di rapor. 

Kreativitas Lebih Penting        

Negara tetangga kita, Singapura, 

tahun lalu secara mengejutkan telah menghapus sistem ranking pada 

konsep baru pendidikan mereka. 

Padahal Singapura telah lama dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas  pendidikan  terbaik dunia. Mumpuni dalam hal mencetak siswa berprestasi tinggi.          

Singapura juga terkenal sangat mendukung pembelajaran hapalan, dan punya jam belajar yang panjang, untuk mendorong anak-anak sekolah di sana sukses menjalani ujian. 

Mengutip laman WeForum  dan Straitstimes, selain menghapus sistem ranking dalam rapor siswa, ke depan, pendidikan di Singapura akan lebih ditekankan pada kemampuan dan pengembangan karakter siswa serta keterampilan teknologi.          

Pendekatan baru Negeri Singa terhadap pendidikan ini, tentunya sangat kontras dengan negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang masih sibuk berlomba meraih peringkat tertinggi pendidikan.

"Belajar bukan kompetisi!” tegas Ong Ye Kung, Menteri Pendidikan Singapura seperti dilansir Kumparan (9/11/2018).  

Ong Ye Kung menegaskan, 

perubahan konsep  pendidikan ini 

diyakini dapat mengalihkan fokus, 

dari tuntutan kesempurnaan nilai ujian, 

pada upaya menciptakan individu 

yang lebih baik.          

Sistem pendidikan Singapura akan memprioritaskan pengembangan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, penguasaan teknologi, entrepreneurship 

dan kepercayaan diri. 

Karakter generasi seperti itulah, 

menurut Ong Ye Kung, yang dibutuhkan Singapura di masa depan. Bukan lagi sekadar mengejar nilai dan angka.         

Oleh karena itu, apakah ini saatnya 

menuntut pemerintah untuk “memusnahkan” sistem ranking yang toksik, dari dunia pendidikan Indonesia? 

Tentu harapannya begitu. 

Demi penyerataan sistem pendidikan, 

tentu diperlukan goodwill yang serius dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.           

Sudah bukan zamannya lagi anak dipaksa untuk berkompetisi mengejar ranking di sekolah.

Tetapi, anak-anak harus dibantu, didukung, dan diberi kesempatan mengembangkan potensi dirinya masing-masing. 

Pemerintah dan stakeholders pendidikan wajib merealisasikan penyediaan lingkungan pendidikan yang nyaman dan mendukung kreativitas para siswa.           

Albert Einstein, fisikawan jenius pengubah dunia pernah mengatakan, 

bahwa semua anak itu jenius. 

Tapi jika Anda menilai seekor ikan, dengan kemampuannya memanjat pohon, maka ia akan menjalani hidupnya dengan percaya bahwa dia bodoh. (*)

Bagi penulis pendapat di atas patut diapresiasi namun tidak seluruhnya ditelan tanpa pengkajian karena ingat skolah adalah juga lingkungan adiwiyata. Betul tekolah tempat belajar,  tapi ada kegiatan lain yang semakna dan saling terkait dgn belajar. Katakanlah berlatih,  berinteraksi,  bersosialisasi, berkolaborasi, berevaluasi 'penilaian',  praktek dan pengembangan diri lainnya. Klu belajar hanya untuk nilai (mengukur tinggi rendah angka-angka) perolehan peserta didik, maka mungkin pandangan di atas tepat. Sesungguhnya belajar di sekolah itu dlm perspektif adiwiyata sejalan sebuah value dan maknanya. Adiwiyata adalah supaya membangun program atau wadah yang baik dan ideal untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup untuk cita-cita pembangunan berkelanjutan. Dari uraian ini, penulis berpendapat bahwa sekolah adalah tempat belajar hidup untuk menghadapi kenyataan yg lebih luas dan kompleks di masyarakat. Yg jadi masalah teori dan nilai-nilai yg diperoleh di sekolah terbantahkan dgn kenyataan dan praktek dlm kehidupan berbangsa dan bernegara.  Katakanlah,  di sekolah diajarkan teori kejujuran tetapi prakteknya dijumpai tindakan dan perlakuan ketidakjujuran menyelewengkan amanah konstitusi. Tapi bukan berarti sekolah ditutup apalagi ditiadakan. Bisa jadi tanpa sekolah kebiadaban terjadi di mana-mana. Sebagai praktisi pendidikan sepatutnya kita membangun karakter berintegritas dan bermartabat untuk anak bangsa yg lebih baik. Yang pasti bukan rangking yg menentukan masa depan anak,  namun ranking perlu sebatas pembelaran hidup. Maksudnya  adalah untuk menentukan ranking maka dibuat dan ditentukan formulasi  dari kolaborasi perolehan angka-angka kognitif dipadukan dgn kuantitas nilai-nilai karakter bangsa yg meliputih religius, nasionalis, mandiri, gotong royong (kolaboratif) dan integritas.  Porsi yang ideal untuk penentuan ranking lebih dominan rata-rata nilai karakter daripada rata-rata nilai  kognitif. Untuk mengakselerasi internalisasi karakter bangsa kepada peserta didik maka penentuan ranking diformulasikan dari rerata nilai kognitif dikali 35% dijumlahkan dengan rerata nilai karakter dikali 65%. Selama beraktivitas semoga jadi pendidik berintegritas. !

Semoga bermanfaat  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar