Minggu, 17 Maret 2019

Cerita Ikan Masapi Selamatkan Nenek Moyang Bugis dari Belanda


Cerita persahabatan antara ikan masapi (belut berkuping) dengan nenek moyang suku Bugis dan Makassar mewarnai sejarah perjuangan di masa penjajahan Belanda dahulu. Sebagian masyarakat Bugis-Makassar yang masih melestarikan adat budaya peninggalan nenek moyang hingga saat ini masih meyakini kesakralan ikan masapi.


Bagi masyarakat Bugis-Makassar, makan ikan masapi yang rupanya mirip ular tetapi memiliki kuping itu bisa membuat tubuh pemakannya melepuh.

"Pesan nenek-nenek kita dulu demikian, kita dilarang memakan ikan masapi. Jangankan dimakan, melihat saja ketika ada orang yang membakarnya dan asapnya mengenai kita, maka tubuh akan melepuh dan gatal," kata Muh. Irfan (52) warga Limbung, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, kepada Liputan6.com, Jumat, 11 Agustus 2017.

Menurut dia, keyakinan tersebut masih dipegang oleh sebagai kelompok masyarakat Bugis-Makassar, khususnya yang tinggal di pedesaan.

"Saya dan keluarga besar juga sampai saat ini masih menjaga pesan nenek itu. Pernah ada kejadian di kampung dulu coba melanggar, lalu akhirnya meninggal karena tubuhnya terus gatal dan akhirnya melepuh," ujar bapak lima anak tersebut.

Ia mengungkapkan, berdasarkan cerita yang pernah ia dengar dari neneknya dulu, asal mula keyakinan tak boleh makan ikan masapi berawal dari cerita seorang nenek moyang Bugis-Makassar yang bersembunyi di sebuah sungai besar di tengah hutan. Kala itu, dia dikejar oleh tentara Belanda.

Di saat gelisah karena takut persembunyiannya diketahui tentara Belanda, tiba-tiba muncul seekor ikan masapi berukuran besar dari dasar air sungai. Sang ikan menunjukkan tempat persembunyian yang lebih aman.


Setelah berhasil selamat dari pengejaran tentara Belanda, nenek moyang kemudian bersumpah di hadapan ikan masapi berukuran besar itu sebagai bukti balas budi.

"Nah ceritanya, nenek moyang kita bersumpah dan berjanji kala itu bahwa seluruh keturunannya tak akan memakan ikan masapi. Jika itu dilanggar, maka tubuhnya akan melepuh," ucap IJrfan.



Cerita yang sama diungkapkan Puang Harlia (67), warga kampung Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Keyakinan untuk takut mendekati ikan legenda yang tinggal di celah-celah bebatuan yang ada di sungai tersebut masih bertahan dalam keluarga besarnya.

"Sampai sekarang, anak-anak saya dan cucu saya larang dekat apalagi makan ikan masapi. Itu sudah pesan nenek moyang kami," katanya.

Menurut cerita neneknya dahulu, ikan masapi berbeda dengan ikan pada umumnya. Ikan masapi, kata dia, memiliki perasaan sama dengan ikan lumba-lumba.

"Kata nenek ikan masapi itu punya jiwa penolong sama lumba-lumba. Di mana sebelumnya ikan masapi pernah menolong nenek moyang Bugis dulu, sehingga balas budi kita dilarang memakannya," kata Harlia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POSTINGAN UNGGULAN

JUMATAN