Jumat, 19 Desember 2014

Guru-Guru Baru

sssssssssssssssssssSeringkali saat guru sedang menjelaskan, beberapa siswa masuk sambil terkantuk-kantuk. Tak sedikit yang tertidur tetapi lebih banyak lagi hanya berpura-pura memperhatikan. Padahal sejujurnya mereka sedang asyik bermain game, nonton hingga on line. Fenomena ini kian melanda para pelajar tingkat SMA atau SMP bahkan SD.
Perilaku siswa seperti ini ditanggapi beragam oleh guru. Ada guru yang menyikapinya secara demokratis namun tak sedikit yang apatis dan cuek bebek.



Secara demokratis, guru akan menyikapinya dengan sikap positif thinking dengan asumsi perilaku tersebut masih dalam skop wajar untuk ukuran usia mereka yang labil. Tidak itu saja, guru tipe ini akan membantu siswa mengatasi masalahnya.
Gurutipe ini juga mendorong siswa untuk selalu berkarya dan menjaga optimisme meraih cita-cita. Mereka tidak akan sekedar memberi pujian tetapi juga mengarahkan. Umumnya guru seperti ini adalah guru yang terbuka (open-minded). Mereka bersedia menerima ide-ide dan pendapat siswa yang berbeda dengannya. Siswa kerap menyebutnya guru gaul sementara Rhenald Kasali, Guru Besar UI, menyebutnya guru inspiratif.
Sementara guru dengan tipe apatis akan bersikap tidak mau tahu. Hal terpenting bahwa ia menjalankan tugasnya dan honor tetap jalan. Mereka tidak mau tahu apa yang terjadi dengan siswanya. Ia tidak berusaha menggali alasan kemalasan siswa apalagi memberi solusi dan semangat. Menanyakan pada ketua kelas pun dianggap hanya membuang waktu.
Guru tipe ini juga cenderung tidak terbuka. Tidak menghargai pendapat siswa dan selalu merasa dirinya benar. Siswa yang berbeda pendapat dengannya dianggap membangkang. Baginya siswa yang pandai adalah  siswa yang penurut dan tukang hafal. Sementara siswa yang membantah dianggap membangkang, bodoh, dan sok tahu. Siswa seperti ini biasanya mendapat catatan merah. Jika siswa menyebut guru tipe ini sebagai guru killer, maka Rhenald Kasali menyebutnya guru kurikulum. Guru yang taat pada kurikulum dan yang terpenting ia harus mentransfer semua ilmu yang ada pada kurikulum. Dan celakanya, menurut pengalaman Rhenal Kasali, sebab guru tipe ini sebanyak 99% menguasai porsi guru di tanah air.
Guru Baru
Sikap guru yang apatis dan masih bermetode tradisional (berceramah sepanjang proses pengajaran) dapat menjadi alasan ketidaktarikan siswa mengikuti proses mengajar di kelas. Meski demikian, ada alasan lain yang lebih serius, yaitu siswa menemukan guru baru. Internet dengan beragam faslitasnya (facebook, instagram, line, twitter dan kawan-kawan), game, handphone dengan beragam aplikasinya serta tayangan-tayangan tv seolah telah menjadi guru baru mereka.
Siswa lebih senang mencari materinya lewat  google yang up date. Malangnya jika guru tidak terbuka dengan hal-hal baru dan tetap memelihara pengetahuannya yang kadaluarsa.  Jangan-jangan siswa sudah lebih dahulu tahu materi yang akan diajarkan lewat internet dan mendengarkan guru menyampaikan materi yang telah diketahuinya -dengan cara monoton pula- dianggap sebagai kegiatan yang hanya membuang-buang waktunya.
Lebih jauh, guru sering kali tidak sadar jika saat ia sedang asyik menjelaskan, justru ada banyak siswa sedang berada di dunia lain (virtual world) yang direpresentasikan oleh berbagai jejaring sosial. Siswapun menemukan hal-hal baru yang sifatnya imajiner. Secara fisik mereka memang berada di kelas tetapi pikiran mereka sedang berada di tempat yang lain.
Televisi
Guru baru yang satu ini tak kalah berbahayanya dengan internet. Berbagai program tv  saat ini telah menggantikan posisi guru sebagai penuntun. Sayangnya sebab tv (dan berbagai perangkat teknologi serupa) menuntun siswa lebih banyak kepada hal-hal yang negatif.
Saya yakin ki ta semua dapat mendata tayangan-tayangan televisi yang sama sekali jauh dari nilai edukatif. Kita dapat memulainya dari sinetron Ganteng-Ganteng Serigala, Manusia Harimau, dan sinetron-sinetron FTV serta sinetron lain yang dapat pembaca sebut sendiri. Kita kemudian semakin khwatir dengan fenomena tayangan Arjuna di Antv serta tayangan-tayangan di channel lain yang memasukkan simbol-simbol Islam untuk menutupi kebobrokannya.
Dan yang lebih memprihatinkan sebab sebagian dari presenter mereka tak layak dijadikan teladan. Mereka berpenampilan busana Islam ditempeli kata-kata subhanallah tetapi kita semua tahu pada saat pagi dan siang hari menjadi presenter gosip. Beberapa diantara mereka juga cacat moral. Tanpa keraguan kita sebut saja Luna Maya, Cut Tari, dan Ariel Peterpan serta artis-artis lain yang belum terungkap masih melenggak lenggok di atas panggung. Parahnya sebab kita ikut menikmatinya. Kita seolah amnesia dengan perbuatan mereka terdahulu.
Dan kalau kita bersedia mengakui, sebagian besar penikmat dari tayangan-tayangan tersebut dan pengidola presenter-presenter yang amoral, adalah para siswa dan mahasiswa. Selain lewat, mereka menikmatinya lewat internet dengan berbagai fitur-fiturnya. Apatah lagi jika gadget mereka kian dilengkapi aplikasi-aplikasi mutakhir.
Siswa akan merasa kehilangan mendalam ketika tidak sedang bersama gadgetnya atau tidak menyaksikan tayangan-tayangn yang tidak edukatif. Atau malah menonton tv sambil bermain gadget. Porsi waktu siswa seolah dikuasai penuh oleh dua guru baru ini.
Tak sedikit malah yang menjadikannya tuntunan menggantikan posisi guru. Bagi guru inspiratif, ia akan menuntun siswa memanfaatkan kedua guru baru tersebut sebagai sumber belajar. Sebaliknya bagi guru kurikulum, guru-guru baru tersebut adalah petaka. Mereka berusaha mempertahankan atensi siswanya dengan membatasi bahkan melarang penggunaan gadget. Tetapi kita semua tahu, siswa yang berjiwa muda jika semakin dilarang akan semakin penasaran. Kini, guru harus mempersiapkan diri menghadapi tantangan teknologi jika tidak, bersedialah semakin disingkarkan oleh guru-guru  tersebut.(*)


Oleh;
Arifuddin
Pengajar PIBA UIN Alauddin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar